Hal itu disampaikan Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) dan President University, Teuku Rezasyah kepada RMOL dalam pesan elektronik, Minggu, 20 September 2026.
Menurut Rezasyah, Prabowo memahami secara mendalam penderitaan masyarakat Palestina yang telah mengalami penindasan sejak berdirinya Israel pada 1948, sementara dunia dinilai cenderung membiarkan kondisi tersebut.
Adapun pengulangan seruan “Free Palestine” sebanyak tiga kali mencerminkan kesadaran Prabowo atas tanggung jawab Indonesia sebagai negara Muslim terbesar untuk memperjuangkan Palestina sebagai negara yang berdaulat dan bermartabat.
“Dalam konteks inilah Presiden Prabowo Subianto berulang kali menggelorakan “Free Palestine” secara lantang dan berulang-ulang. Tentunya retorika yang disampaikan pada acara penting dalam organisasi kemasyarakat Islam terbesar di dunia ini akan dikenang dunia,” ungkapnya.
Karena itu, Rezasyah mendorong agar seruan tersebut tidak berhenti pada retorika, tetapi diwujudkan melalui langkah diplomatik bersama negara-negara lain di berbagai forum internasional.
“Presiden Prabowo Subianto hendaknya mampu membuktikannya dilevel dunia sehingga menjadikan Macan Kertas ini menjadi Macan Kumbang, yang bergerak di semua forum internasional yang dihadirinya,” tegas Rezasyah.
Dia berharap Indonesia dapat bergerak bersama negara-negara OKI, Liga Arab, dan kelompok Kerja Sama Selatan-Selatan untuk mewujudkan hak-hak dasar masyarakat Palestina sebagaimana tercantum dalam berbagai resolusi PBB.
“Setidaknya bagi negara-negara di Majelis Umum PBB, terutama sekali Organisasi Konferensi Islam, Kerjasama Selatan-Selatan, dan Liga Arab, dimana mereka akan bersama Indonesia bergerak dari semangat Macan Kertas menjadi semangat Macan Kumbang, bergerak dalam satu kesatuan sehingga mampu memberikan masyarakat Palestina hak-hak dasar mereka,” tandasnya.
