Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri menjelaskan, pertemuan bersama dengan beberapa mitra tersebut membahas banyak hal termasuk upaya percepatan proses aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).


“Sebagai negara ASEAN pertama yang menempuh proses aksesi OECD, Indonesia memandang keanggotaan OECD sebagai prioritas strategis untuk memperkuat reformasi domestik dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional,” ujar Wamendag Roro dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 24 September 2026.

Roro mengatakan, Indonesia mengapresiasi pelaksanaan Fact-Finding Mission oleh Trade and Agriculture Directorate (TAD) OECD di Jakarta. Laporan Market Openness Review (MOR) akan menjadi salah satu referensi dalam pembahasan Komite Perdagangan OECD pada Maret 2027.



Untuk mendukung proses tersebut, dia memastikan permintaan Indonesia atas dukungan OECD berupa panduan mengenai prioritas negara anggota, asistensi dalam menyampaikan capaian reformasi Indonesia, serta memastikan pembahasan tetap berlandaskan instrumen dan standar OECD. 

“Sebagai bagian dari penguatan dialog kebijakan, Indonesia dengan dukungan OECD-TAD dan Pemerintah Australia akan menyelenggarakan OECD-Strategic Forum on Food Standards and Certification Policies di Jakarta pada November 2026,” kata Roro.

Roro juga menyebutkan, implementasi Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA), penguatan hubungan perdagangan dengan Rusia, serta peningkatan kemitraan ekonomi dengan Inggris, juga menjadi bahasan dalam pertemuan tersebut.

Pada Senin 21 September 2026, Wamendag bertemu dengan Menteri Bidang Integrasi dan Makroekonomi Eurasian Economic Commission (EEC), Daniiar Imanaliev, untuk membahas implementasi I-EAEU FTA yang ditandatangani pada 21 Desember 2025.  

“Indonesia telah menyelesaikan proses ratifikasi domestik melalui Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2026 dan menargetkan I-EAEU FTA dapat berlaku efektif pada akhir 2026. Implementasi FTA ini perlu segera dioptimalkan untuk membuka akses pasar dan menciptakan peluang perdagangan serta investasi baru,” kata Roro. 

Indonesia dan EEC, lanjut Roro,  juga sepakat menyelaraskan implementasi Memorandum of Cooperation (MoC) Indonesia?”EEC dengan FTA. MoC akan difokuskan pada pertukaran teknis, berbagi pengetahuan, dan peningkatan kapasitas, antara lain di bidang integrasi regional, ekonomi digital, UMKM, dan logistik. 

Lebih lanjut, kedua pihak mendorong pembentukan Indonesia-EAEU Business Council, partisipasi EAEU dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, serta penyelenggaraan forum dan misi dagang untuk memperkuat business matching dan mendorong transaksi konkret. 

Total perdagangan Indonesia dengan EAEU pada 2025 mencapai 5,3 miliar dolar AS, dengan tren pertumbuhan rata-rata 9,77 persen dalam lima tahun terakhir.

Dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia, Vladimir Ilyichev, pada Senin 21 September 2026, Wamendag Roro mendorong diversifikasi perdagangan dan penguatan konektivitas ekonomi kedua negara. 

“Indonesia melihat peluang untuk meningkatkan ekspor produk seperti alumina, kendaraan bermotor, industrial fatty alcohol, dan lembaran baja tahan karat, sekaligus menjaga ketersediaan pasokan strategis seperti gandum, besi dan baja, emas, serta katoda tembaga,” kata Roro. 

Ilyichev juga menyampaikan dukungan Rusia terhadap peningkatan perdagangan dan investasi dengan Indonesia, termasuk melalui diversifikasi produk dan penguatan hubungan antarpelaku usaha. 

Kedua pihak juga membahas isu praktis yang mendukung kelancaran perdagangan, khususnya pembukaan rute logistik baru Indonesia-Rusia dan peningkatan efisiensi transaksi melalui dialog antara Bank Indonesia dan Bank Sentral Rusia. 

Di sektor perikanan, Indonesia mendorong kelanjutan proses registrasi 15 Unit Pengolahan Ikan (UPI) Indonesia di Rusia untuk memperluas akses pasar. Pada 2025, total perdagangan Indonesia-Rusia mencapai 4,8 miliar dolar AS, dengan tren pertumbuhan rata-rata 12,98 persen dalam lima tahun terakhir.

Pada Selasa 22 September 2026, Wamendag Roro bertemu dengan Lord Anas Sarwar, Menteri Negara Urusan Perdagangan Inggris, untuk membahas persiapan UK-Indonesia Economic Growth Partnership (EGP) Forum pada November 2026, perkembangan persiapan Indonesia menuju CPTPP, serta peluang peningkatan kerja sama ekonomi bilateral.

“Peningkatan komitmen kerja sama dengan Inggris akan membawa peluang perdagangan yang lebih besar bagi pelaku bisnis di kedua negara. Dalam rangka menjaga momentum positif hubungan kedua negara, terdapat peluang untuk mulai menjajaki pembentukan FTA atau CEPA,” ujar Wamendag.

Lord Anas menyampaikan apresiasi atas perkembangan perdagangan Indonesia-Inggris dan menegaskan komitmen Inggris untuk memperkuat keterhubungan dengan perdagangan internasional dan rantai nilai global. 

Menurutnya, peluang peningkatan kerja sama perdagangan kedua negara masih terbuka luas dan perlu ditindaklanjuti melalui pembahasan yang lebih spesifik untuk menghasilkan manfaat nyata bagi dunia usaha

“Indonesia akan terus mendorong kerja sama perdagangan yang memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha, baik melalui penguatan standar dan reformasi domestik maupun melalui pembukaan akses pasar baru dan peningkatan konektivitas dengan mitra strategis,” demikian Roro.rmol news logo article



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *