Pertandingan melawan Benin di Stadion Monumental menjadi penampilan terakhirnya di hadapan publik Argentina. Ia mencetak gol, membawa Argentina menang 3-0, lalu menutup malam itu dengan air mata dan pidato perpisahan.
Messi pergi bukan setelah kegagalan. Ia pergi setelah menyelesaikan misi yang selama bertahun-tahun terasa seperti utang kepada negaranya.
Dulu, ia kalah di final Piala Dunia 2014 dan tiga final besar secara beruntun bersama Argentina. Kritik pun datang dari berbagai arah.
Sebagian publik mempertanyakan kecintaannya kepada tim nasional; sebagian lainnya menilai sehebat apa pun Messi di level klub, ia belum benar-benar menjadi legenda Argentina sebelum memenangkan trofi bersama negaranya.
Messi tidak menjawab semua kritik itu dengan kata-kata. Ia menjawabnya dengan kembali ke lapangan. Copa América 2021 akhirnya datang, disusul Finalissima dan Piala Dunia 2022 — trofi yang selama bertahun-tahun menjadi ukuran terbesar untuk menilai warisannya. Copa América 2024 kemudian kembali menambah koleksinya.
Kini, ketika meninggalkan tim nasional, Messi membawa sesuatu yang dulu tidak dimilikinya: kepastian bahwa ia sudah menuntaskan tugasnya. Ia pergi sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Argentina dengan 125 gol dan pemegang rekor penampilan dengan 207 caps.
Karena itu, air mata Messi di Monumental bukanlah air mata seorang pemain yang gagal mencapai tujuannya. Itu adalah air mata seseorang yang menyadari bahwa sebuah perjalanan panjang benar-benar telah berakhir.
Selama bertahun-tahun, dunia mengenalnya melalui gol, assist, trofi, rekor, dan kemenangan. Tetapi pada malam terakhirnya di Argentina, semua angka itu seperti kehilangan arti sejenak.
Yang tersisa hanya seorang pria berusia 39 tahun yang menoleh ke belakang dan melihat lebih dari dua dekade hidupnya. Ia mengenang ayahnya, berterima kasih kepada para pendukung, lalu mengatakan bahwa bermain untuk Argentina adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Ironisnya, pemain yang dahulu dituntut membuktikan cintanya kepada Argentina akhirnya meninggalkan tim nasional sebagai pemain yang paling banyak membela dan paling banyak mencetak gol untuk negara tersebut.
Itulah mengapa kepergian Messi terasa seperti akhir sebuah era. Bukan semata karena Argentina kehilangan seorang pesepak bola hebat, melainkan karena negara itu kehilangan pemain yang selama dua dekade menjadi wajah, harapan, beban, sekaligus simbol sepak bolanya.
Namun Argentina tidak boleh terjebak mencari pengganti Messi. Tidak akan ada Messi kedua. Yang harus dicari adalah era berikutnya.
Messi sudah melakukan bagiannya: datang sebagai talenta muda, mengalami kegagalan, menanggung kritik, kembali, memenangkan trofi, mengangkat Piala Dunia, dan akhirnya pergi sebagai legenda.
Sekarang tantangan Argentina bukan lagi membuat Messi menjadi besar, melainkan membuktikan bahwa Argentina tetap bisa besar ketika Messi sudah tidak berada di sana.
Sebab ukuran terbesar seorang legenda bukanlah seberapa lama ia bertahan, melainkan apa yang tetap hidup setelah ia pergi.
*Pemain Bola Kampung
