Keputusan ini diumumkan pada Senin, 12 Oktober 2026, waktu Amerika Serikat (AS), menyusul serangan yang menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Delta sebelumnya menjadwalkan penerbangan perdana pada 23 Oktober 2026 menggunakan pesawat Airbus A350-900. Rute tersebut sedianya menjadi penerbangan komersial nonstop pertama antara AS dan Arab Saudi yang dioperasikan oleh maskapai AS.
Dampak serangan terhadap penerbangan di Riyadh juga meluas. Menurut data FlightAware, lebih dari 2.000 penerbangan menuju dan dari Bandara Internasional King Khalid telah dibatalkan sejak Kamis. Situasi memburuk pada Sabtu, ketika sebuah proyektil menghantam terminal penumpang. Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Hingga Senin, bandara itu masih ditutup.
Meski menunda pembukaan rute, Delta menegaskan tetap berkomitmen menggarap pasar Arab Saudi dalam jangka panjang. Maskapai tersebut juga terus berkoordinasi dengan mitra pemerintah dan penerbangan, termasuk Saudia dan Riyadh Air, sembari memantau perkembangan keamanan.
“Arab Saudi tetap menjadi pasar penting bagi Delta, dan kami berkomitmen untuk melayani Kerajaan dalam jangka panjang,” kata Delta dalam pernyataan resminya.
Sebelum keputusan penundaan diumumkan, CEO Delta Ed Bastian mengatakan kepada CNBC pada Kamis bahwa maskapai masih mempertimbangkan apakah akan mengubah jadwal penerbangan perdana.
“Jelas, kami kecewa melihat berita minggu ini,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa keselamatan menjadi pertimbangan utama.
Risiko keamanan penerbangan turut mendorong Administrasi Penerbangan Federal (FAA) AS mengeluarkan peringatan pada Minggu. FAA meminta pilot berhati-hati saat terbang di dalam atau sekitar Arab Saudi karena aktivitas militer yang masih berlangsung dan potensi gangguan sistem navigasi. Peringatan yang berlaku hingga 10 Desember 2026 itu menyebut ancaman dapat membahayakan pesawat di semua ketinggian.
Sejumlah maskapai lain juga menangguhkan penerbangan ke Riyadh, sementara AS dan Australia mengimbau warganya agar tidak bepergian ke wilayah tersebut. Situasi ini menambah tekanan terhadap operasional penerbangan internasional dan memaksa maskapai menyesuaikan rencana ekspansi di kawasan Timur Tengah. 
