“Walaupun El Niño akan bertahan sampai awal 2027, dengan masuknya Indonesia ke musim hujan, dampak El Niño akan berkurang,” ungkap Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachry Ridjab kepada media di Jakarta, Rabu 14 Oktober 2026.
Fachry menjelaskan bahwa El Niño dan musim hujan merupakan dua fenomena berlainan yang saling memberikan pengaruh timbal balik. Menurutnya, musim hujan akan senantiasa melanda Indonesia terlepas dari ada atau tidaknya kemunculan fenomena El Niño.
“Yang perlu kita pahami, El Niño dan musim (hujan) itu dua fenomena yang tidak sama gitu ya, tapi saling memengaruhi. Musim kemarau, musim hujan akan selalu terjadi di Indonesia, ada atau tidaknya El Niño,” ujarnya.
Saat ini, BMKG mencatat bahwa sejumlah daerah seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara telah mulai memasuki musim hujan sehingga dampak El Niño di kawasan tersebut tidak lagi signifikan. Sebaliknya, wilayah Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta justru mencatatkan rekor hari tanpa hujan terpanjang yang mencapai 160 hari berturut-turut.
Pihak BMKG memperkirakan bahwa pada November 2026 sebagian besar kawasan Kalimantan dan Sumatera akan mulai kedatangan musim hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi. Kendati begitu, curah hujan di sejumlah titik di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Sulawesi terpantau masih relatif rendah.
“Untuk Desember, sebagian besar wilayah Indonesia sudah berwarna hijau, artinya sudah terjadi curah hujan tinggi,” ungkap Fachry.
Meskipun demikian, BMKG mengingatkan bahwa persebaran hujan tidak akan merata secara merata di seluruh wilayah. Perbedaan kondisi iklim dan cuaca ini menuntut penanganan mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lapangan agar senantiasa disesuaikan dengan tingkat kerawanan masing-masing daerah, khususnya bagi wilayah yang masih menghadapi dampak karhutla yang berat. 
