Ia menyarankan investor domestik  memanfaatkan penurunan harga saham untuk menyerok atau memborong saham.

“Malah mungkin dengan asing keluar, harga turun, investor dalam negeri silakan serok aja sekarang,” kata Dradjad kepada wartawan, di Kemenkop Perekonomian, Jakarta, dikutip Sabtu, 17 Oktober 2026.

Hal tersebut dikatakan di tengah ancaman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka peluang menurunkan  klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.


Dradjad menilai, investor asing cenderung mengikuti acuan MSCI. Padahal, menurutnya, MSCI bukan satu-satunya rujukan dalam menganalisis pasar keuangan.

“Tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka (MSCI) tidak selalu benar,” tuturnya.

Karena itu, investor domestik diminta tidak buru-buru mengikuti aksi jual asing. Dradjad menekankan pentingnya melakukan perhitungan sendiri dan tidak mudah panik menghadapi gejolak pasar modal.

“Cobalah, kalian bisa lebih independen. Perkuat analisis kalian, perkuat model-model kalian, melakukan modeling sendiri, bisa ngitung return saham kita sendiri, bisa tahu kekuatan kita sendiri,” kata Drajad.

Dradjad mencontohkan prospek emiten sektor konsumer domestik yang diperkirakan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sekitar 5,9 persen pada kuartal III-2026. 

Menurutnya, proyeksi kinerja perusahaan semacam itu perlu menjadi bahan pertimbangan investor, alih-alih mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen negatif.

“Kalau gampang panik akan rugi. Tapi kalau kita nggak gampang panik, itu akan bisa lebih aman,” tandasnya.rmol news logo article



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *