{"id":12466,"date":"2026-06-01T16:36:10","date_gmt":"2026-06-01T09:36:10","guid":{"rendered":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/06\/01\/tersandera-kelelahan-sosial\/"},"modified":"2026-06-01T16:36:10","modified_gmt":"2026-06-01T09:36:10","slug":"tersandera-kelelahan-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/06\/01\/tersandera-kelelahan-sosial\/","title":{"rendered":"Tersandera Kelelahan Sosial"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>                            <!-- News Part 2 --><br \/>\n                            <br \/>Dalam neurosains, otak<br \/>\nmanusia secara evolusioner dilengkapi insting bertahan hidup yang<br \/>\ndisebut bias negativitas (<i>negativity bias<\/i>). Insting<br \/>\nini memprogram untuk selalu lebih peka dan merespons ancaman, jauh lebih<br \/>\n cepat daripada kabar baik (Knutson et al., 2024). Di abad modern,<br \/>\ninsting purba tersebut dikomodifikasi secara agresif oleh algoritma.<\/p>\n<p>                            <!-- News Part 2.5 --><br \/>\n                            Teknologi<br \/>\n sejenis platform digital tidak mempedulikan kewarasan publik, melainkan<br \/>\n berusaha untuk menahan atensi selama mungkin. Karena otak secara alami<br \/>\nterpancing stimulus ketakutan dan kemarahan, algoritma sengaja<br \/>\nmenyodorkan konten negatif berintensitas tinggi (<i>high arousal &#13;<br \/>\nnegative<\/i>) agar kita terus berinteraksi (Rathje et al., 2024).<br \/>\u00a0<br \/>Proses pembajakan kognitif berskala masif, melahirkan penyakit psikologis massal.<br \/>\n                            <!-- Ads: News Content B --><\/p>\n<p>                            <!-- News Part 3 (last) --><br \/>\n                            <br \/><b>Sindrom Dunia Kejam<\/b><\/p>\n<p>Dampak&#13;<br \/>\n paparan konten negatif tanpa henti, adalah kemunculan sindrom dunia &#13;<br \/>\nkejam (<i>mean world syndrome<\/i>). Dicetuskan George &#13;<br \/>\nGerbner (1981), sindrom yang menjelaskan bahwa intensitas tinggi suguhan&#13;<br \/>\n berita kekerasan, mengembangkan bias bahwa dunia jauh lebih berbahaya &#13;<br \/>\ndan sinis pada fakta statistik.<\/p>\n<p>Tetapi situasinya terbilang &#13;<br \/>\nkompleks, ketika konteks realitas sosialnya memang dirasakan memburuk. &#13;<br \/>\nKetidakpercayaan pada institusi kekuasaan, adalah hasil sintesis dari &#13;<br \/>\nkinerja buruk kelembagaan dan kerusakan sistemik birokrasi. Pemberitaan &#13;<br \/>\nmengamplifikasi kondisi tersebut, termanifestasi menjadi fenomena &#13;<br \/>\nperadilan jalanan.<\/p>\n<p>Publik lantas merasa dikepung oleh &#13;<br \/>\nketidakadilan, kemudian berhenti mempercayai prosedur hukum formal. &#13;<br \/>\nHukum dipersepsikan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kecuali &#13;<br \/>\njika didukung populasi besar, dan keadilan ditentukan melalui besaran &#13;<br \/>\nkerumunan.<\/p>\n<p><b>Kelelahan Empati<\/b><\/p>\n<p>Dimensi yang tak kalah &#13;<br \/>\nmerusak adalah kelelahan empati (<i>compassion fatigue<\/i>).&#13;<br \/>\n Kapasitas otak dirancang untuk bersimpati pada penderitaan komunitas &#13;<br \/>\nterdekat. Tidak mampu menampung problem yang terjadi dalam jangkauan &#13;<br \/>\nlebih luas, secara berkelanjutan.<br \/>\u00a0<br \/>Survei Pew Research Center &#13;<br \/>\n(2024), menemukan lebih separuh audiens yang mengikuti berita krisis &#13;<br \/>\nmerasa kehabisan tenaga secara mental. Sebagai mekanisme pertahanan &#13;<br \/>\ndiri, terjadi seleksi bobot pikiran yang pada akhirnya memutuskan tombol&#13;<br \/>\n empati.<\/p>\n<p>Terjadi efek mati rasa (desensitisasi). Tragedi &#13;<br \/>\nkemanusiaan awalnya membuat menangis, terdegradasi menjadi tontonan &#13;<br \/>\nvisual atau kebisingan (<i>noise<\/i>) digital yang dilewati &#13;<br \/>\nbegitu saja.<\/p>\n<p><b>Ketidakberdayaan Demokrasi<\/b><\/p>\n<p>Stadium &#13;<br \/>\npuncak patologi publik adalah ketidakberdayaan yang dipelajari &#13;<br \/>\n(<i>learned helplessness<\/i>). Manakala publik dibombardir &#13;<br \/>\nkrisis sistemik, seolah tidak berujung, seperti rangkaian korupsi, &#13;<br \/>\nhilangnya keadilan, merosotnya ekonomi, konsekuensi akhirnya bermuara &#13;<br \/>\npada kesadaran bahwa aksi perlawanan apa pun tidak mengubah keadaan &#13;<br \/>\n(Meng &amp; Berezina, 2020).<\/p>\n<p>Tercipta nuansa publik, bahwa semua &#13;<br \/>\npolitisi sama saja, atau sistem sudah terlalu busuk untuk diperbaiki, &#13;<br \/>\nmenyedot habis motivasi untuk berpartisipasi dalam menjaga demokrasi, &#13;<br \/>\nbak layu sebelum berkembang.<\/p>\n<p>Paradoks melanda, melorotnya Indeks &#13;<br \/>\nPersepsi Korupsi (IPK) pada skor buruk (TI, 2025), justru disertai &#13;<br \/>\nsurvei kepuasan publik terhadap kepemimpinan figur sentral justru &#13;<br \/>\nmeroket tinggi (IPI, 2025). Dalam perspektif psikologis, membuktikan &#13;<br \/>\nterjadinya kepasrahan absolut.<br \/>\u00a0<br \/>Publik terlalu lelah secara &#13;<br \/>\nmental (<i>cognitive fatigue<\/i>), hingga menitipkan sisa &#13;<br \/>\nharapan secara membabi buta pada pesona figur penguasa yang dianggap &#13;<br \/>\nkuat, sembari mundur perlahan dari kewajiban mengawal jalannya &#13;<br \/>\ndemokrasi.<\/p>\n<p><b>Merebut Kewarasan<\/b><\/p>\n<p>Diperlukan upaya untuk&#13;<br \/>\n merawat kewarasan publik, dan menghindari penyakit psikologis publik, &#13;<br \/>\nagar menjadi subjek dan aktor penentu dari kehidupan bersama, bukan &#13;<br \/>\nhanya objek penderita.<\/p>\n<p>Pada tingkat individu, perlu kritis atas &#13;<br \/>\ninformasi yang mendera. Memiliki literasi untuk memilah representasi &#13;<br \/>\nrealitas, sehingga menjaga kapasitas empati. Disamping itu dibutuhkan &#13;<br \/>\nkolaborasi bersama, dalam mengoreksi arah melenceng kekuasaan. Sementara&#13;<br \/>\n di level struktural, diperlukan kemauan dan komitmen untuk &#13;<br \/>\nmengembalikan kepercayaan publik.<\/p>\n<p>Jangan sampai kemerdekaan &#13;<br \/>\nindividu dirampas, atau bahkan kehilangan sisi paling manusiawi yang &#13;<br \/>\ndimiliki, yakni kepedulian tulus serta harapan bila hidup ini masih &#13;<br \/>\nlayak diperjuangkan. <img decoding=\"async\" alt=\"rmol news logo article\" src=\"https:\/\/dashboard.rmol.id\/assets\/images\/logo\/10441704062019_akhir.png\"\/><\/p>\n<p><i>Penulis sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung<\/i><\/p>\n<p>                            <!-- Ads: News Content C --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/rmol.id\/publika\/read\/2026\/06\/01\/709174\/tersandera-kelelahan-sosial\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam neurosains, otak manusia secara evolusioner dilengkapi insting bertahan hidup yang disebut bias negativitas (negativity bias). Insting ini memprogram untuk selalu lebih peka dan merespons ancaman, jauh lebih cepat daripada kabar baik (Knutson et al., 2024). Di abad modern, insting purba tersebut dikomodifikasi secara agresif oleh algoritma. Teknologi sejenis platform digital tidak mempedulikan kewarasan publik, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12467,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-12466","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12466","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12466"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12466\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12467"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12466"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12466"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12466"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}