{"id":20361,"date":"2026-09-16T18:11:35","date_gmt":"2026-09-16T11:11:35","guid":{"rendered":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/09\/16\/nusron-orang-sakti-kebal-hukum\/"},"modified":"2026-09-16T18:11:35","modified_gmt":"2026-09-16T11:11:35","slug":"nusron-orang-sakti-kebal-hukum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/09\/16\/nusron-orang-sakti-kebal-hukum\/","title":{"rendered":"Nusron Orang Sakti, Kebal Hukum"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>                                <!-- News Part 2 --><br \/>\n                                <br \/>Yang paling ramai, pertanyaan yang sudah jadi lagu nasional, \u201cKenapa Nusron Wahid tidak ditangkap? Dia kan <i>big boss<\/i>-nya! Masa anak buah main sendiri? Masa bos Summarecon yang tajir melintir mau setor ke anak buah tanpa restu atasan?\u201d<\/p>\n<p>                                <!-- News Part 2.5 --><br \/>\n                                Jawaban resmi selalu sama dan sudah hafal di luar kepala. Jawaban KPK, \u201cSedang mendalami.\u201d Kata \u201cmendalami\u201d kini jadi mantra sakti lebih sakti dari doa orang saleh.\u00a0<\/p>\n<p>Seolah-olah penyidik sedang menyelam ke laut dalam membawa senter kecil, mencari ikan napoleon yang mungkin sudah kabur ke luar negeri.\u00a0<br \/><!-- Ads: News Content B --><\/p>\n<p>                                <!-- News Part 3 (last) --><br \/>\n                                <br \/>Padahal dari delapan tersangka yang ditahan sejak 15 September 2026, Lampri si Dirjen, Sontang Coin Manurung si Kepala Kantah Bogor, Adrianto Pitojo Adhi si Presdir Summarecon yang dompetnya lebih tebal dari laporan keuangan negara, Rizal Pahlefi, plus empat orang kepercayaan menteri Arif Sugiyanto, Fahd A Rafiq, Erwin, dan Muhammad Fakhry, aliran uangnya sudah jelas seperti jalan tol.<\/p>\n<p>Rp1,5 miliar dari Summarecon ke Erwin lalu Rp200 juta ke Sontang di kafe Jakarta Selatan. Rp2,1 miliar dari PT Bela Parahyangan ke Erwin lalu Rp1,8 miliar ke Arif. Rp8 miliar dalam sembilan koper merah bertuliskan nama Lampri. Setoran Rp10 miliar di rekening Arif. Total sitaan Rp106,3 miliar termasuk dolar, riyal, dan ringgit dalam sekitar 20 koper.\u00a0<\/p>\n<p>Tapi <i>big boss<\/i>-nya? Masih aman di singgasana. Bahkan sempat absen RDP Komisi II DPR sehari setelah OTT, digantikan Wamen Ossy Dermawan yang cuma bisa bilang \u201chormati proses hukum\u201d sambil senyum tipis.<\/p>\n<p>Netizen mulai bikin teori konspirasi lebih nyeleneh dari sinetron sore. Ada bilang menteri sudah didesain kebal hukum sejak dilantik, lengkap dengan jubah anti-KPK dan surat sakti dari langit.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSilakan tangkap anak buah sebanyak-banyaknya biar terlihat serius, tapi jangan sentuh menterinya. Nanti negara goyang,\u201d tulis seorang netizen yang profilnya foto kucing pakai kacamata.\u00a0<\/p>\n<p>Yang lain menambahkan, \u201cBos Summarecon pasti tahu aturan main. Dia setor ke orang kepercayaan menteri, bukan ke tukang parkir. Masa iya orang kepercayaan main sendiri tanpa laporan ke atasan?\u201d<\/p>\n<p>Memang, sang menteri belum sekali pun dipanggil sebagai saksi, apalagi dijadikan tersangka. Alasan resminya selalu \u201ctergantung kebutuhan penyidikan\u201d dan \u201cwaktu OTT hanya 1&#215;24 jam.\u201d\u00a0<\/p>\n<p>Seolah-olah penyidik sibuk menghitung uang di 20 koper sampai lupa ada orang di puncak piramida. Padahal keempat orang kepercayaan itu disebut KPK sendiri sebagai \u201corang yang merepresentasikan menteri\u201d, yang bisa bikin Kepala Kantah tunduk hanya dengan bilang \u201cada arahan dari atas\u201d.\u00a0<\/p>\n<p>Fee diminta dengan kode \u201cdua\u201d, uang dikumpulkan dari Kantah sampai kementerian, Arif jadi pengepul, Fahd jadi penampung akhir, semuanya mengalir ke atas seperti air mancur yang dipasang terbalik. Tapi big boss-nya? Kebal. Sakti.<\/p>\n<p>Beginilah kenyataan pahit, percuma berharap Nusron ditangkap. Dia orang sakti, kebal hukum. Anak buah sudah ditahan, uang Rp106,3 miliar sudah dipamerkan, aliran dari Summarecon yang tajir melintir sudah diungkap, tapi menteri tetap duduk manis.\u00a0<\/p>\n<p>KPK terus \u201cmendalami\u201d, netizen terus bertanya, dan sistem seolah sudah didesain sejak awal. Silakan tangkap anak buah, tapi jangan sentuh menterinya.\u00a0<\/p>\n<p>Karena di negeri ini, kadang korupsi level tertinggi bukan soal bukti, melainkan soal siapa yang boleh disentuh dan siapa yang dilindungi oleh mantra sakti bernama \u201csedang didalami\u201d.\u00a0<\/p>\n<p>Sementara publik hanya bisa ngakak getir sambil menunggu episode berikutnya, karena konspirasi ini terlalu bagus untuk jadi fiksi.<img decoding=\"async\" alt=\"rmol news logo article\" src=\"https:\/\/dashboard.rmol.id\/assets\/images\/logo\/10441704062019_akhir.png\"\/><\/p>\n<p><b>Rosadi Jamani<\/b><br \/><i>Mantan Wartawan<\/i><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/rmol.id\/publika\/read\/2026\/09\/16\/721966\/nusron-orang-sakti-kebal-hukum\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yang paling ramai, pertanyaan yang sudah jadi lagu nasional, \u201cKenapa Nusron Wahid tidak ditangkap? Dia kan big boss-nya! Masa anak buah main sendiri? Masa bos Summarecon yang tajir melintir mau setor ke anak buah tanpa restu atasan?\u201d Jawaban resmi selalu sama dan sudah hafal di luar kepala. Jawaban KPK, \u201cSedang mendalami.\u201d Kata \u201cmendalami\u201d kini jadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":20362,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,6],"tags":[],"class_list":["post-20361","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20361","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20361"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20361\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20362"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20361"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20361"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20361"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}