{"id":21153,"date":"2026-09-27T18:12:08","date_gmt":"2026-09-27T11:12:08","guid":{"rendered":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/09\/27\/petani-jagung-sambas-hadapi-tanah-tandus-hingga-waduk-rusak-tep-ui-dorong-sistem-tabungan-bibit\/"},"modified":"2026-09-27T18:12:08","modified_gmt":"2026-09-27T11:12:08","slug":"petani-jagung-sambas-hadapi-tanah-tandus-hingga-waduk-rusak-tep-ui-dorong-sistem-tabungan-bibit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/09\/27\/petani-jagung-sambas-hadapi-tanah-tandus-hingga-waduk-rusak-tep-ui-dorong-sistem-tabungan-bibit\/","title":{"rendered":"Petani Jagung Sambas Hadapi Tanah Tandus hingga Waduk Rusak, TEP UI Dorong Sistem Tabungan Bibit"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>Sambas, Kabar Terbaru \u2013 Persoalan petani jagung di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, ternyata cukup kompleks. Mulai dari tanah kering dan tandus, sulitnya air, kerusakan waduk, mahalnya pupuk, serangan hama hingga minimnya alat pertanian menjadi persoalan yang dihadapi petani dari masa tanam sampai pascapanen.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) lokus Gerbang Mas Perkasa bersama Gapoktan Cahaya Sebunga.<\/p>\n<p>FGD diikuti pengurus Gapoktan serta 12 ketua kelompok tani. Para petani memetakan persoalan pertanian ke dalam empat tahapan, yakni pratanam, tanam, panen dan pascapanen.<\/p>\n<p>Pada tahap pratanam, kondisi tanah menjadi salah satu masalah utama.<\/p>\n<p>\u201cDi sini pengolahan tanahnya setengah mati, tanahnya kering dan tandus, beda dengan tanah yang di Jawa,\u201d kata Budianto, 7 September 2026.<\/p>\n<p>Petani berharap adanya dukungan alat mesin pertanian, khususnya hand tractor, yang dapat dikelola bersama melalui Gapoktan.<\/p>\n<p>Persoalan lain yang dinilai paling krusial adalah ketersediaan air. Selama ini petani masih mengandalkan hujan untuk memulai musim tanam.<\/p>\n<p>Petani juga menyoroti kondisi waduk yang sebelumnya dapat membantu mengairi lahan pertanian, namun kini tidak lagi berfungsi.<\/p>\n<p>\u201cDulu produksi jagung dan beras di sini cukup banyak, air ada bisa disalurkan dari waduk. Semenjak waduk jebol tidak bisa lagi mengairi lahan. Banyak yang survei, foto-foto waduk, tapi tidak ada tindak lanjut,\u201d ujar Jongkok.<\/p>\n<p>Masalah berlanjut pada tahap penanaman. Harga pupuk yang tinggi membuat sebagian petani sangat bergantung pada bantuan pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cMemulai penanaman membutuhkan modal yang besar, pupuknya mahal. Jika tidak dipupuk, tidak mampu tumbuh, hasilnya jelek,\u201d ujar Antonius.<\/p>\n<p>Petani sebenarnya telah mencoba menggunakan pupuk organik dari kotoran ternak. Namun jumlahnya belum mampu memenuhi kebutuhan lahan.<\/p>\n<p>Serangan hama juga menjadi persoalan serius. Petani menemukan sejumlah gejala seperti daun menggulung, batang mengeluarkan serbuk putih, buah membusuk hingga serangan ulat hitam.<\/p>\n<p>Minimnya pengetahuan mengenai jenis hama membuat penanganannya belum maksimal.<\/p>\n<p>Kesulitan kembali muncul ketika panen. Lokasi kebun yang jauh dari jalan menyebabkan hasil jagung harus diangkut secara manual. Saat hujan, kondisi jalan tanah menjadi becek dan jagung semakin berat karena terkena air.<\/p>\n<p>Sementara pada tahap pascapanen, mesin pemipil jagung masih terbatas. Pengeringan juga bergantung pada panas matahari.<\/p>\n<p>Melihat rangkaian persoalan tersebut, TEP UI bersama Gapoktan Cahaya Sebunga mulai mendorong pengembangan jagung komposit.<\/p>\n<p>Jagung komposit dipilih karena hasil panennya dapat diseleksi kembali untuk dijadikan benih pada musim tanam berikutnya.<\/p>\n<p>TEP UI akan menyediakan benih percontohan sekaligus mendampingi petani mengembangkan sistem \u201cPenabungan Bibit\u201d.<\/p>\n<p>Dalam konsep tersebut, sebagian hasil panen akan disimpan sebagai benih dan dikelola melalui Gapoktan untuk kebutuhan anggota pada musim tanam berikutnya.<\/p>\n<p>Setiap satu kilogram benih disebut berpotensi menghasilkan sekitar 250 hingga 300 kilogram jagung, tergantung kondisi budidaya di lapangan.<\/p>\n<p>Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap bantuan benih sekaligus menghidupkan kembali peran Gapoktan sebagai wadah penyelesaian persoalan pertanian secara bersama.<\/p>\n<p>TEP UI juga menggandeng Dinas Pertanian Kabupaten Sambas untuk memberikan pendampingan mengenai budidaya jagung komposit, penanganan hama hingga pemilihan hasil panen yang dapat digunakan kembali sebagai benih.<\/p>\n<p>Namun, persoalan besar seperti rusaknya waduk, minimnya irigasi, akses jalan pertanian, pupuk dan alat mesin pertanian masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan dukungan berbagai pihak.(rai)<\/p>\n<p> <!-- AI CONTENT END 2 --><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediakalbarnews.com\/petani-jagung-sambas-hadapi-tanah-tandus-hingga-waduk-rusak-tep-ui-dorong-sistem-tabungan-bibit\/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=petani-jagung-sambas-hadapi-tanah-tandus-hingga-waduk-rusak-tep-ui-dorong-sistem-tabungan-bibit\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sambas, Kabar Terbaru \u2013 Persoalan petani jagung di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, ternyata cukup kompleks. Mulai dari tanah kering dan tandus, sulitnya air, kerusakan waduk, mahalnya pupuk, serangan hama hingga minimnya alat pertanian menjadi persoalan yang dihadapi petani dari masa tanam sampai pascapanen. Kondisi tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Tim Ekspedisi Patriot Universitas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":21154,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-21153","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21153"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21153\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21154"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}