{"id":22416,"date":"2026-10-16T00:00:47","date_gmt":"2026-10-15T17:00:47","guid":{"rendered":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/10\/16\/bersepakat-soal-ancaman-berselisih-dalam-respons\/"},"modified":"2026-10-16T00:00:47","modified_gmt":"2026-10-15T17:00:47","slug":"bersepakat-soal-ancaman-berselisih-dalam-respons","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/10\/16\/bersepakat-soal-ancaman-berselisih-dalam-respons\/","title":{"rendered":"Bersepakat soal Ancaman, Berselisih dalam Respons"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>\t\t\t\t\t\t\t\t<!-- News Part 2 --><br \/>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<br \/>Media Iran melaporkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas. Hingga awal Oktober, menurut pemberitaan <i>Al Jazeera<\/i>, perang masih berlangsung. Pertanyaan menariknya adalah: apakah elite Iran bersatu untuk menghadapi musuh bersama?<\/p>\n<p>Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan analisa mendalam untuk memetakan ancaman eksternal dan peran elite domestik Iran sebagai unit dalam menyaring dan menentukan kebijakan berdasarkan tingkat kohesi elite.<\/p>\n<p>Serangan ini sulit dimasukkan ke satu kategori. Ancaman bersifat sistemik: kekuatan besar ekstra-regional memproyeksikan kekuatan dengan armada, pangkalan, dan sanksi yang berasal dari struktur sistem internasional.<\/p>\n<p>\t\t\t\t\t\t\t\t<!-- Ads: News Content B --><\/p>\n<p>\t\t\t\t\t\t\t\t<!-- News Part 3 (last) --><br \/>\n\t\t\t\t\t\t\t\tDari medannya, ancaman bersifat subsistemik: Israel adalah rival regional langsung Iran, dan balasan Iran mengenai negara-negara Teluk seperti UEA, Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Dari sasarannya, ancaman bersifat domestik: seruan perubahan rezim membidik kohesi elite dan legitimasi politik Iran di mata rakyatnya.<\/p>\n<p>Lapisan terakhir inilah yang paling menentukan. Bagi rezim yang ideologinya dibangun di atas perlawanan terhadap AS dan Israel, perubahan rezim berarti akhir Republik Islam, bukan sekadar pergantian pemerintah.<\/p>\n<p><b>Mengapa Ancaman Luar Tidak Otomatis menjadi Kebijakan?<\/b><\/p>\n<p>Di sinilah <i>neoclassical realism<\/i> berguna. Teori ini menerima bahwa tekanan sistemik menentukan arah umum kebijakan sebuah negara, tetapi menegaskan bahwa tekanan itu harus lebih dulu dibaca dan diproses oleh para pengambil keputusan, lalu diterjemahkan lewat kemampuan negara memobilisasi sumber daya. Ancaman tidak bicara sendiri.<\/p>\n<p><i>Neoclassical realism<\/i>, menurut Ripsman, Taliaferro dan Lobel (2016), berangkat dari asumsi bahwa tekanan sistemik menentukan arah umum kebijakan luar negeri suatu negara, tetapi tekanan itu tidak diterjemahkan secara otomatis. Variabel tingkat unit (negara) berperan sebagai penghubung (<i>intervening variables<\/i>) antara struktur internasional dan perilaku negara.<\/p>\n<p>Tiga variabel intervening yang dipakai di sini adalah persepsi pemimpin, kohesi elite, dan hubungan negara-masyarakat, khususnya kemampuan negara mengekstraksi dan memobilisasi sumber daya.<\/p>\n<p>Di Iran, pemetaan dan penilaian ancaman itu terpusat di puncak: Pemimpin Tertinggi, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, dan Garda Revolusi. Presiden dan parlemen yang dipilih rakyat berada di bawah struktur tersebut. Dan pada hasilnya, kesepakatannya kuat. Para pemimpin Iran bersepakat perang ini sebagai ancaman eksistensial.<\/p>\n<p>Logikanya tidak rumit: ketika lawan menyatakan tujuannya adalah menjatuhkan rezim, kubu pragmatis pun tidak punya ruang tawar, sebab kejatuhan rezim berarti mereka kehilangan segalanya.<\/p>\n<p><b>Sepakat soal Ancaman, Berselisih soal Respons<\/b><\/p>\n<p>Namun kesepakatan tentang apa ancamannya tidak sama dengan kesepakatan tentang apa yang harus dilakukan. Retak itu terlihat dalam sepekan pertama perang. Presiden Pezeshkian berjanji tidak akan menyerang negara-negara Teluk. Janji itu ditentang kubu garis keras di Garda Revolusi dan elite ulama, dan ia terpaksa menariknya sebagian.<\/p>\n<p>Jadi sosok yang menengahi kesepakatan ancaman dari berbagai aktor kini tidak sekuat dulu. Otonomi pengambil keputusan puncak Iran memang tinggi, tetapi tidak mutlak. Seorang presiden masih bisa memaksa kompromi, dan seorang presiden juga bisa dipaksa mundur.<\/p>\n<p>Respons Iran mencerminkan logika negara yang menghadapi lawan lebih kuat. Penggunaan salvo rudal dan drone merupakan strategi untuk menguras pertahanan Patriot dan THAAD, membuat perang menjadi lebih mahal bagi lawan.<\/p>\n<p>Front paralel lewat Hizbullah, Houthi, dan milisi Irak, serta gangguan di Selat Hormuz, menjadi strategi asimetris mematikan bukan untuk menang secara konvensional, tetapi tidak hanya membuat perang berkepanjangan, namun juga menyentuh persoalan lain, seperti ekonomi global.<\/p>\n<p>Dari sini ada hal yang perlu dilihat, yaitu kesepakatan elite tentang ancaman tidak menjamin kesepakatan tentang respons, apalagi dukungan masyarakat. Terdapat frustasi ekonomi publik meski bersifat rendah. Serangan yang menargetkan rezim bisa jadi justru mengonsolidasikan persepsi ancaman sambil membuka perdebatan tentang respons. Itu bukan paradoks, melainkan cara kerja tekanan eksternal ketika melewati politik domestik.<\/p>\n<p><b>Variabel Perantara: Persepsi, Kohesi Elite, dan Kapasitas Negara<\/b><\/p>\n<p>Dalam kerangka <i>neoclassical realism<\/i>, variabel independennya adalah tekanan sistemik, yaitu distribusi kekuatan yang menempatkan Iran jauh lebih lemah secara konvensional dibanding AS dan Israel. Variabel dependennya adalah kebijakan luar negeri: salvo rudal, perang proksi, dan gangguan di Hormuz.<br \/>\u00a0<br \/>Kasus Iran memperlihatkan ketiganya bekerja tidak seragam. Persepsi ancaman nyaris bulat, seperti telah dijelaskan di atas. Kohesi elite hanya sebagian: bila laporan tewasnya Khamenei benar, Iran kehilangan penengah utama yang selama ini mendamaikan Garda Revolusi, ulama, dan pemerintahan terpilih, sehingga perbedaan respons di kawasan Teluk mudah muncul ke permukaan.<\/p>\n<p>Garda Revolusi menguasai aparat koersif sekaligus jaringan ekonomi, sehingga negara tetap sanggup menggerakkan sumber daya di bawah sanksi. Tetapi, di sisi lain, frustrasi ekonomi membuat mobilisasi lebih bertumpu pada paksaan ketimbang persetujuan.<\/p>\n<p>Dari sini perbedaan respons dapat dibaca sebagai perbedaan hitungan biaya domestik, bukan perbedaan penilaian ancaman. Kubu garis keras mengutamakan deterensi dan menaikkan harga perang bagi lawan, termasuk lewat serangan ke Teluk. Kubu Pezeshkian menimbang risiko mengasingkan tetangga yang masih menjadi jalur diplomasi dan ekonomi.<\/p>\n<p>Neoclassical realism tidak memprediksi respons yang paling rasional menurut logika sistem, melainkan kompromi yang mencerminkan keseimbangan kekuatan di dalam rezim: eskalasi terukur, pesan yang ambigu, dan koordinasi yang tidak selalu rapi di lapangan. Ujian berikutnya adalah apakah kohesi elite bertahan ketika ongkos perang menumpuk, sebab di titik itulah tekanan eksternal paling mungkin berubah menjadi retakan internal.<\/p>\n<p>Dua hal yang perlu dilihat. Pertama, daya tahan Iran tidak hanya ditentukan oleh persediaan rudal dan jaringan proksinya, tetapi juga oleh kemampuan rezim menjaga kesatuan langkah di tengah tekanan yang sengaja dirancang lawan untuk memecah belah elite sekaligus masyarakatnya.<\/p>\n<p>Kedua, langkah diplomasi Iran ke depan sebagai kelanjutan perang dengan cara lain dimana Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Presiden Iran Pezeshkian memegang jalur diplomasi, sedangkan kubu garis keras menjaga kredibilitas deterensi. Kesepakatan soal ancaman memberi rezim alasan untuk berunding, tetapi kohesi elite yang terbatas menentukan seberapa jauh konsesi boleh diberikan.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, domestik Iran hanya bersepakat pada karakter ancaman, namun berselisih dalam respons, sebagai gambaran perbedaan perspektif kebijakan di tingkat elit Iran dalam merespons ancaman.<br \/>\u00a0<br \/><b>Yugolastarob Komeini<\/b><br \/><i>Pengamat Hubungan Internasional<\/i><\/p>\n<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/rmol.id\/read\/2026\/10\/15\/725135\/iran-bersepakat-soal-ancaman-berselisih-dalam-respons\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Media Iran melaporkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas. Hingga awal Oktober, menurut pemberitaan Al Jazeera, perang masih berlangsung. Pertanyaan menariknya adalah: apakah elite Iran bersatu untuk menghadapi musuh bersama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan analisa mendalam untuk memetakan ancaman eksternal dan peran elite domestik Iran sebagai unit dalam menyaring dan menentukan kebijakan berdasarkan tingkat kohesi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":22417,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-22416","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22416","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22416"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22416\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22417"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22416"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22416"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22416"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}