{"id":23125,"date":"2026-10-26T04:38:41","date_gmt":"2026-10-25T21:38:41","guid":{"rendered":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/10\/26\/refleksi-kisah-nabi-musa-as-dan-firaun-dalam-2-tahun-pemerintahan-prabowo-gibran\/"},"modified":"2026-10-26T04:38:41","modified_gmt":"2026-10-25T21:38:41","slug":"refleksi-kisah-nabi-musa-as-dan-firaun-dalam-2-tahun-pemerintahan-prabowo-gibran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/10\/26\/refleksi-kisah-nabi-musa-as-dan-firaun-dalam-2-tahun-pemerintahan-prabowo-gibran\/","title":{"rendered":"Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir&#8217;aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>                                <!-- News Part 2 --><br \/>\n                                <br \/>Salah satu kisah yang memiliki makna mendalam adalah perjuangan Nabi Musa AS menghadapi Fir&#8217;aun. Kisah ini memperlihatkan bagaimana kesombongan kekuasaan dapat menjauhkan manusia dari kebenaran, sementara doa, kesabaran, dan keteguhan iman menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian.<\/p>\n<p>                                <!-- News Part 2.5 --><br \/>\n                                Dalam tradisi Taurat dikenal sepuluh tulah yang menimpa Mesir. Sementara itu, Al-Qur&#8217;an menyebut berbagai tanda dan azab yang menimpa kaum Fir&#8217;aun, antara lain banjir, belalang, kutu, katak, dan darah, sebagaimana diterangkan dalam Surah Al-A&#8217;raf ayat 133.<\/p>\n<p>Ketika azab tersebut datang, kaum Fir&#8217;aun meminta Nabi Musa AS berdoa kepada Allah agar penderitaan mereka diangkat. Mereka bahkan berjanji akan beriman dan membebaskan Bani Israil.<br \/><!-- Ads: News Content B --><\/p>\n<p>                                <!-- News Part 3 (last) --><br \/>\n                                <br \/>Allah SWT kemudian mengangkat azab tersebut. Namun, setelah keadaan membaik, mereka kembali mengingkari janji.<\/p>\n<p>Peristiwa ini mengandung pesan moral yang penting bagi kehidupan manusia, termasuk dalam penyelenggaraan pemerintahan modern.<\/p>\n<p>Jangan sampai manusia hanya mengingat Allah ketika menghadapi musibah, tetapi melupakan keadilan, amanah, dan tanggung jawab setelah memperoleh kelapangan.<\/p>\n<p><b>Dari Wabah Fir&#8217;aun hingga Tantangan Zaman Modern<br \/><\/b><br \/>Kisah Nabi Musa AS mengajarkan bahwa kekuasaan dan kemajuan manusia tidak menjadikannya terbebas dari ujian kehidupan.<\/p>\n<p>Pada zaman sekarang, manusia menghadapi berbagai persoalan yang berbeda secara historis, tetapi dapat menjadi bahan perenungan moral yang serupa.<\/p>\n<p>Kebakaran hutan, banjir, kekeringan, pencemaran lingkungan, ancaman penyakit, ketidakpastian ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga kesulitan mendapatkan pekerjaan merupakan tantangan yang membutuhkan perhatian bersama.<\/p>\n<p>Ketika hutan terbakar, bukan hanya pepohonan yang hilang, tetapi juga sumber kehidupan masyarakat. Ketika banjir datang, rumah dan mata pencaharian dapat lenyap. Ketika tekanan ekonomi meningkat, keluarga pekerja, petani, nelayan, dan masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling rentan.<\/p>\n<p>Bencana tersebut tentu tidak dapat begitu saja dinyatakan sebagai azab Allah kepada masyarakat atau pemerintahan tertentu. Banyak bencana memiliki penyebab alamiah dan faktor manusia yang dapat dijelaskan secara ilmiah.<\/p>\n<p>Namun, sebagai umat beragama, kita dapat menjadikannya sebagai pengingat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan hidup.<\/p>\n<p>Al-Qur&#8217;an dalam Surah Ar-Rum ayat 41 mengingatkan tentang kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan tangan manusia.<\/p>\n<p>Pesan tersebut mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga bumi dan tidak boleh membiarkan kepentingan sesaat merusak kehidupan generasi mendatang.<br \/><b><br \/>Keteladanan Nabi Musa AS: Doa Harus Disertai Ikhtiar dan Perubahan<br \/><\/b><br \/>Salah satu bagian yang paling menyentuh dari kisah Nabi Musa AS terdapat dalam Surah Al-A&#8217;raf ayat 134-135.<\/p>\n<p>Kaum Fir&#8217;aun yang sedang menghadapi azab meminta Nabi Musa memohon kepada Allah agar penderitaan mereka dihilangkan.<\/p>\n<p>Allah mengangkat azab itu. Akan tetapi, mereka tidak menepati janji yang sebelumnya disampaikan.<\/p>\n<p>Pelajaran terpenting dari peristiwa tersebut bukan hanya bahwa Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya, tetapi juga bahwa manusia harus memiliki kesungguhan untuk berubah.<\/p>\n<p>Nabi Musa AS bukan sekadar seorang nabi yang berdoa. Beliau juga berjuang menyampaikan kebenaran, menghadapi penindasan, dan memperjuangkan pembebasan Bani Israil.<\/p>\n<p>Dengan demikian, keteladanan Nabi Musa AS mengajarkan tiga hal penting: keimanan kepada Allah, keberanian menegakkan kebenaran, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan bernegara, doa untuk keselamatan bangsa memiliki kedudukan spiritual yang penting. Namun, doa tidak boleh menggantikan tanggung jawab pemerintah untuk memperbaiki keadaan.<\/p>\n<p>Ketika masyarakat mengalami kesulitan ekonomi, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang melindungi daya beli dan pekerjaan.<\/p>\n<p>Ketika terjadi kebakaran hutan, pemerintah perlu memperkuat pencegahan, penegakan hukum, dan pemulihan lingkungan. Ketika ketidakadilan terjadi, negara harus memastikan hukum dijalankan secara adil.<\/p>\n<p>Berdoa kepada Allah adalah bentuk penghambaan. Memperbaiki keadaan rakyat adalah bagian dari tanggung jawab atas amanah kekuasaan.<\/p>\n<p><b>Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Momentum Muhasabah Nasional<br \/><\/b><br \/>Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2026, bangsa Indonesia memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan pemerintahan.<\/p>\n<p>Refleksi tersebut perlu mencakup capaian pembangunan, berbagai persoalan yang belum terselesaikan, serta harapan masyarakat terhadap masa depan bangsa.<\/p>\n<p>Pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, kesejahteraan pekerja, perlindungan lingkungan, dan pelayanan publik merupakan sejumlah bidang yang memerlukan evaluasi berkelanjutan.<\/p>\n<p>Namun, selain pendekatan ekonomi, politik, dan hukum, terdapat satu dimensi yang tidak boleh dilupakan, yaitu dimensi moral dan spiritual.<\/p>\n<p>Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena itu, nilai keagamaan dapat menjadi sumber etika dalam menjalankan pemerintahan.<\/p>\n<p>Momentum dua tahun pemerintahan dapat digunakan untuk memperkuat muhasabah nasional, yaitu introspeksi bersama mengenai tanggung jawab yang telah dijalankan dan berbagai hal yang masih perlu diperbaiki.<\/p>\n<p>Muhasabah bukan berarti mengabaikan capaian pemerintah. Sebaliknya, muhasabah memberikan ruang untuk mengakui keberhasilan, mendengarkan kritik, memperbaiki kekurangan, dan memperkuat komitmen pelayanan kepada rakyat.<\/p>\n<p>Kisah Nabi Musa AS memberikan pelajaran bahwa kekuasaan harus selalu disertai kerendahan hati.<\/p>\n<p>Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kewenangan yang besar, tetapi juga perlu memiliki kesediaan mendengar nasihat, menerima kritik, dan melindungi masyarakat.<br \/><b><br \/>Saatnya Pemerintah Merangkul Ulama dan Tokoh Agama<br \/><\/b><br \/>Dalam momentum dua tahun pemerintahan, pemerintah dapat memperkuat silaturahmi kebangsaan dengan para ulama, kiai, pimpinan pesantren, tokoh lintas agama, dan tokoh masyarakat.<\/p>\n<p>Pertemuan tersebut sebaiknya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan ruang dialog untuk mendengarkan nasihat moral dan aspirasi masyarakat.<\/p>\n<p>Ulama dan tokoh agama memiliki peran penting dalam membangun kesadaran sosial, menjaga kerukunan, membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, serta memperkuat solidaritas ketika terjadi bencana.<\/p>\n<p>Pemerintah dapat melibatkan pimpinan organisasi keagamaan, para kiai pesantren, tokoh agama di tingkat daerah, serta perwakilan masyarakat dalam dialog mengenai kesejahteraan, lingkungan hidup, pendidikan, dan keadilan sosial.<\/p>\n<p>Pendekatan tersebut perlu dijalankan secara inklusif, menghormati kebebasan beragama, dan tidak membatasi ruang kritik dari masyarakat.<\/p>\n<p>Nasihat para ulama dan tokoh agama semestinya menjadi pengingat moral bagi pemegang kekuasaan, bukan sekadar pelengkap dalam acara kenegaraan.<br \/><b><br \/>Doa Bersama untuk Keselamatan Negeri<\/b><\/p>\n<p>Sebagai bagian dari refleksi dua tahun pemerintahan, pemerintah dapat memfasilitasi kegiatan doa bersama nasional untuk memohon keselamatan bangsa Indonesia.<\/p>\n<p>Bagi umat Islam, kegiatan tersebut dapat diwujudkan melalui istigasah, zikir, pembacaan salawat, dan doa bersama yang melibatkan para ulama, habaib, kiai, santri, serta masyarakat.<\/p>\n<p>Pemuka agama lain dapat menyelenggarakan doa sesuai dengan ajaran dan keyakinannya masing-masing dalam semangat kebersamaan dan kerukunan nasional.<\/p>\n<p>Doa bersama tersebut dapat dipanjatkan agar bangsa Indonesia senantiasa memperoleh perlindungan Allah SWT, dijauhkan dari berbagai musibah, diberikan kedamaian, serta memperoleh kemudahan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial.<\/p>\n<p>Doa juga dapat dipanjatkan agar para pemimpin bangsa diberikan kesehatan, kebijaksanaan, kejujuran, serta kekuatan untuk menjalankan amanah dengan adil.<\/p>\n<p>Namun, kegiatan spiritual ini perlu diselenggarakan secara sederhana, tidak berlebihan dalam penggunaan anggaran, dan tidak dijadikan pengganti evaluasi kebijakan.<\/p>\n<p>Sebab, pelajaran dari kisah Nabi Musa AS bukan hanya tentang memohon agar penderitaan diangkat, tetapi juga tentang pentingnya menepati janji setelah memperoleh pertolongan.<\/p>\n<p>Doa bersama harus menjadi awal dari penguatan tanggung jawab, bukan akhir dari kewajiban pemerintah terhadap rakyat.<br \/><b><br \/>Keselamatan Negeri Memerlukan Ikhtiar Lahir dan Batin<br \/><\/b><br \/>Refleksi Nabi Musa AS dapat diterjemahkan menjadi sejumlah agenda nyata bagi pemerintah.<\/p>\n<p>Pertama, memperkuat perlindungan lingkungan melalui pencegahan kebakaran hutan, pemulihan kawasan rusak, dan penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan.<\/p>\n<p>Kedua, meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja yang layak, perlindungan pekerja, penguatan jaminan sosial, serta kebijakan yang menjaga daya beli.<\/p>\n<p>Ketiga, memperkuat ketahanan pangan dan melindungi petani, nelayan, serta masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi.<\/p>\n<p>Keempat, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan agar anggaran dan kebijakan negara dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.<\/p>\n<p>Kelima, memperluas dialog dengan tokoh agama, akademisi, organisasi masyarakat, serikat pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya sebagai bagian dari proses evaluasi kebijakan.<\/p>\n<p>Keenam, menjadikan doa bersama dan muhasabah sebagai sarana memperkuat nilai kejujuran, persaudaraan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kebangsaan.<\/p>\n<p>Ikhtiar lahir dan batin tersebut harus berjalan beriringan. Negara membutuhkan kebijakan yang berdasarkan bukti dan ilmu pengetahuan, sementara masyarakat juga memerlukan kekuatan moral dan spiritual untuk menghadapi berbagai tantangan.<br \/><b><br \/>Jangan Mengulangi Pelajaran Pahit Kaum Fir&#8217;aun<\/b><\/p>\n<p>Ada satu pesan penting yang perlu direnungkan dari kisah Nabi Musa AS. Ketika azab datang, kaum Fir&#8217;aun meminta pertolongan. Ketika penderitaan diangkat, mereka kembali mengingkari janji.<\/p>\n<p>Kisah tersebut mengingatkan bahwa kesungguhan manusia tidak hanya diuji ketika berada dalam kesulitan, tetapi juga ketika memperoleh kelapangan.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan bernegara, janji memperbaiki kesejahteraan rakyat, melindungi lingkungan, dan menegakkan keadilan perlu dijalankan secara konsisten, bukan hanya ketika muncul keadaan darurat.<\/p>\n<p>Bangsa Indonesia tidak perlu menunggu musibah semakin besar untuk memperbaiki persoalan yang telah diketahui.<\/p>\n<p>Pemerintah, masyarakat, tokoh agama, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab sesuai perannya masing-masing.<\/p>\n<p>Kita tidak boleh menyamakan keadaan Indonesia dengan Mesir pada masa Fir&#8217;aun. Namun, kita dapat mengambil hikmah bahwa kesombongan, pengingkaran janji, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan manusia merupakan perilaku yang harus dihindari dalam setiap zaman.<br \/><b><br \/>Penutup: Mengetuk Pintu Langit, Memperbaiki Keadaan di Bumi<br \/><\/b><br \/>Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat refleksi kebangsaan, memperluas dialog dengan ulama dan tokoh agama, serta mengajak seluruh masyarakat memanjatkan doa bagi keselamatan negeri.<\/p>\n<p>Bangsa Indonesia memerlukan persatuan, kepedulian, keadilan, dan kesungguhan menghadapi berbagai tantangan.<\/p>\n<p>Dari kisah Nabi Musa AS, kita belajar bahwa doa merupakan sumber kekuatan spiritual, tetapi harus disertai keimanan, keberanian, dan tindakan nyata.<\/p>\n<p>Mengetuk pintu langit melalui doa harus diiringi kesungguhan memperbaiki keadaan di bumi. Semoga Allah SWT melindungi bangsa Indonesia dari berbagai bencana, memberikan keberkahan kepada negeri ini, menjaga persatuan rakyatnya, dan membimbing para pemimpin agar senantiasa menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. <i>Allahumma amin. Wallahu a&#8217;lam bish-shawab<\/i>. <img decoding=\"async\" alt=\"rmol news logo article\" src=\"https:\/\/dashboard.rmol.id\/assets\/images\/logo\/10441704062019_akhir.png\"\/><\/p>\n<p><b>Nu&#8217;man Fauzi<br \/><\/b><i>Aktivis Gerakan Buruh dan Pemerhati Kebijakan Publik, Sekretaris Jamnaker Watch<\/i><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/rmol.id\/publika\/read\/2026\/10\/26\/726199\/refleksi-kisah-nabi-musa-as-dan-firaun-dalam-2-tahun-pemerintahan-prabowo-gibran\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu kisah yang memiliki makna mendalam adalah perjuangan Nabi Musa AS menghadapi Fir&#8217;aun. Kisah ini memperlihatkan bagaimana kesombongan kekuasaan dapat menjauhkan manusia dari kebenaran, sementara doa, kesabaran, dan keteguhan iman menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian. Dalam tradisi Taurat dikenal sepuluh tulah yang menimpa Mesir. Sementara itu, Al-Qur&#8217;an menyebut berbagai tanda dan azab [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":23126,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,2],"tags":[],"class_list":["post-23125","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-politics"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23125","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23125"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23125\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23126"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23125"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23125"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23125"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}