{"id":6750,"date":"2026-03-08T10:05:50","date_gmt":"2026-03-08T03:05:50","guid":{"rendered":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/03\/08\/gumun-harmoni-dan-syair-kunang-kunang\/"},"modified":"2026-03-08T10:05:50","modified_gmt":"2026-03-08T03:05:50","slug":"gumun-harmoni-dan-syair-kunang-kunang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/2026\/03\/08\/gumun-harmoni-dan-syair-kunang-kunang\/","title":{"rendered":"Gumun Harmoni dan Syair \u201cKunang Kunang\u201d"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>                            <!-- News Part 2 --><br \/>\n                            <br \/>Naskah sederhana ini diawali permohonan maaf kepada Pak Harto. Saya mengaku bersalah tidak sanggup mematuhi wejangan Pak Harto untuk ojo gumunan. Saya terpaksa gumun terhadap lagu \u201cKunang Kunang\u201d yang menurut pendapat saya merupakan mahakarya Ismail Marzuki paling menakjubkan dalam hal akrobat harmoni maupun metafora kata dan kalimat.<\/p>\n<p>                            <!-- News Part 2.5 --><br \/>\n                            Menurut tafsir subyektif saya, syair lagu \u201cKunang Kunang\u201d lembut disentuh Ismail Marzuki dengan sukma impresionistik plus surrealistik lebih ke gaya Miro ketimbang Chirico apalagi Dali. Di akhir bait lirik lagu baru kita tersadar setelah melayang-layang di awang-awang kembali mendarat di permukaan bumi sebagai ungkapan rindu kepada kekasih yang sedang berjuang di medan perang kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n<p>Demi memudahkan analisa harmoni, secara melodi dengan sistem abjad nada bukan Jerman, tanpa birama, notasi lagu \u201cKunang Kunang\u201d dapat ditulis sebagai berikut: CDED CBAC AACA ABCB AAFA AABG \/ CBesCBes GECD EFGA EDED CAFidD \/ EFisDG CDED CBAC AACA \/ ABCB ABCB AAGE EDED \/ EFAC BesAsBesG GGisAC AFDA AGEC.<br \/><!-- Ads: News Content B -->\n                            <\/p>\n<p>                            <!-- News Part 3 (last) --><br \/>\n                            <br \/>Rangkaian nada lagu terkesan sederhana tersebut menjadi luar biasa menakjubkan apabila ditelusuri pada gerak gerik harmoni berhias akrobatik kaliber salto mortale penuh dengan gerakan modulasi tangga nada secara fantastis yang mungkin tidak disadari oleh Ismail Marzuki sendiri.<\/p>\n<p>Ada kesan bahwa Ismail Marzuki menulis melodi \u201cKunang Kunang\u201d secara tulus naluriah sekaligus nuraniah tanpa pretensi memperhitungkan konsekuensi harmonialnya. Maka saya harus memeras habis daya tafsir harmonial saya demi mampu menelaah akrobat harmoni \u201cKunang Kunang\u201d sehingga mata saya berkunang-kunang akibat kehabisan enerji lahir batin.<\/p>\n<p>Bagian awal melodi Kunang-Kunang sudah memicu problematika harmoni tersendiri sehingga saya pribadi memilih sekuenza harmoni akord tujuh besar susul-menyusul silih berganti dengan akord tujuh mengkerut yang memang potensial digunakan untuk mengiringi untaian melodi apa pun termasuk yang paling irasional.<\/p>\n<p>Mengagumkan secara mengejutkan bagaimana pada bait ke dua tepatnya pada \u201cCBesCBes\u201d, Bang Ismail mempersiapkan gelagat suasana bahwa akan terjadi modulasi dari \u201cC besar\u201d ke \u201cF besar\u201d tetapi tidak langsung ke tonika namun terlebih dahulu ke dominan sebelum ke EFGA di mana \u201cA\u201d berfungsi sebagai bukan \u201cla\u201d tetapi \u201cmi\u201d sebelum meloncat ke paralel \u201cCBesCbes\u201d yaitu \u201cEDED\u201d disusul \u201cCAfisD\u201d sebagai dominan ganda yang memodulasikan tangga nada \u201cF\u201d ke \u201cG\u201d di mana kemudian \u201cG\u201d berfungsi sebagai dominan untuk kembali mendaratkan melodi ke tangga nada semula. Yaitu \u201cC besar\u201d.\u00a0<\/p>\n<p>Keajaiban jilid dua terjadi pada melodi \u201cBesAsBesG\u201d yang sengaja tidak saya tulis \u201cAisGisAisG\u201d demi mengarahkan gerak modulasi tangga nada ke \u201cEs besar\u201d atau bisa juga \u201cG kecil\u201d. Namun dugaan saya meleset sebab ternyata harmoni yang muncul alih-alih \u201cE besar\u201d malah \u201cE kecil\u201d.<\/p>\n<p>Lagu \u201cKunang Kunang\u201d pada hakikatnya merupakan fakta bahwa segenap teori akademis musikologi memang berguna untuk menganalisa namun sekaligus juga rawan menjadi kendala dalam gerak proses kreatifitas menggubah musik.<\/p>\n<p>Terbukti bahwa saya yang mempelajari teori musik maka terjebak pada perangkap kaidah-kaidah akademis, justru mustahil mampu menciptakan sebuah lagu sederhana namun atau maka mahadahsyat dalam kreatifitas ketulusan keindahan natural seperti yang telah dilakukan sang Pahlawan Nasional Indonesia, Ismail Marzuki dalam menggubah \u201cKunang Kunang\u201d. MERDEKA! <img decoding=\"async\" alt=\"rmol news logo article\" src=\"https:\/\/dashboard.rmol.id\/assets\/images\/logo\/10441704062019_akhir.png\"\/><\/p>\n<p><i>*Penulis merupakan Budayawan dan Pendiri MURI<\/i><\/p>\n<p>                            <!-- Ads: News Content C --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/rmol.id\/publika\/read\/2026\/03\/08\/699829\/gumun-harmoni-dan-syair-kunang-kunang\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Naskah sederhana ini diawali permohonan maaf kepada Pak Harto. Saya mengaku bersalah tidak sanggup mematuhi wejangan Pak Harto untuk ojo gumunan. Saya terpaksa gumun terhadap lagu \u201cKunang Kunang\u201d yang menurut pendapat saya merupakan mahakarya Ismail Marzuki paling menakjubkan dalam hal akrobat harmoni maupun metafora kata dan kalimat. Menurut tafsir subyektif saya, syair lagu \u201cKunang Kunang\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6751,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-6750","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6750","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6750"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6750\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6751"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6750"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6750"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarterbaru.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6750"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}