Wakil Ketua Komisi VII DPR, Evita Nursanty, meminta pemerintah tidak sekadar melihat fenomena tersebut sebagai transaksi properti, tetapi mencari tahu penyebab di balik maraknya penjualan hotel dan vila di Bali.


“Saya sampaikan, ini harus Kementerian Pariwisata bersama kementerian terkait untuk melihat ini ada apa,” kata Evita kepada RMOL di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 21 September 2026. 

Berdasarkan penelusuran, terdapat 524 iklan properti dengan kata kunci hotel di Bali. Dari jumlah tersebut, 244 di antaranya merupakan hotel dan vila yang ditawarkan untuk dijual. 



Properti yang dipasarkan mencakup hotel bintang tiga hingga bintang lima, dengan harga mulai Rp1,6 miliar hingga Rp535 miliar. Penawarannya tersebar di sejumlah kawasan wisata seperti Kuta, Ubud, Nusa Dua, Canggu, dan Seminyak.

Evita menilai, pemerintah perlu memastikan terlebih dahulu apakah fenomena tersebut benar-benar menunjukkan adanya persoalan pada industri pariwisata Bali.

“Pemda, pusat, pariwisata ya harus mencari tahu apa ini. Apa ini penyebabnya, kita harus cari. Kenapa ini bisa terjadi?” ujarnya.

Menurutnya, informasi mengenai hotel dan vila yang dijual tidak boleh langsung digeneralisasi sebagai tanda bahwa seluruh industri perhotelan Bali sedang bermasalah.

Sambung Legislator PDIP ini, kondisi kunjungan wisatawan ke Bali yang menurutnya masih menunjukkan perkembangan positif. Karena itu, pendalaman diperlukan agar pemerintah memiliki gambaran yang jelas mengenai kondisi sebenarnya.

“Tapi setahu saya turis di Bali itu bertambah. Kita positif, kita harus berpikiran positif bahwa pariwisata kita akan lebih maju lagi ke depan,” demikian Evita.rmol news logo article



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *