Pontianak, Kabar Terbaru

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Barat menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII sebagai momentum evaluasi perjalanan organisasi selama lima tahun sekaligus menyusun arah program untuk periode berikutnya.

Muswil Ke-8 DPW LDII Kalbar yang dilaksanakan di Pendopo Gubernur Kalbar Kamis (24/9/2026) menghasilkan momentum penting bagi ormas keagamaan ini, dimana Susanto, SE, MM., kembali terpilih dan dilantik menjadi Ketua DPW LDII Kalbar bersama jajaran pengurus oleh Ketua Umum DPP LDII.

Ketua DPW LDII Kalimantan Barat, Susanto, mengatakan Muswil menjadi forum penting untuk mengevaluasi pelaksanaan program sekaligus memastikan kontribusi organisasi tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.

“Ini sebenarnya agenda lima tahunan dalam rangka melakukan evaluasi terhadap jalannya organisasi selama lima tahun. Alhamdulillah, ini dilaksanakan dengan baik,” ujar Susanto.

Menurutnya, LDII sebagai organisasi dakwah berupaya menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat yang dapat memberikan kontribusi nyata dalam membantu pemerintah menghadapi berbagai persoalan sosial dan pembangunan.

Delapan Klaster Jadi Arah Pengabdian

Susanto menjelaskan, arah program LDII Kalbar mengacu pada delapan klaster pengabdian, meliputi kebangsaan, dakwah keagamaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, ketahanan pangan dan lingkungan, teknologi digital, serta energi baru terbarukan.

“LDII sebagai organisasi dakwah terus memposisikan diri sebagai sebuah komponen yang terus membantu pemerintah terhadap berbagai persoalan yang ada,” katanya usai dilantik.

Ia menegaskan, delapan klaster tersebut tidak hanya menjadi konsep organisasi, tetapi diterjemahkan ke dalam program kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan lingkungan strategis.

“Poin yang terus kami kerjakan sebagai bagian dari pengabdian LDII untuk bangsa,” ujarnya.

Perkuat Sinergi Lintas Sektor

Dalam menjalankan program, Susanto menyadari LDII memiliki keterbatasan sehingga membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Dalam rangka untuk menjalankan delapan klaster itu kami tidak menutup diri karena kami juga ada kelemahan. Oleh sebab itu, kami terus bangun sinergitas, bangun kolaborasi dengan semua komponen yang ada,” katanya.

Kolaborasi tersebut mencakup pemerintah, TNI, Polri, lembaga kemasyarakatan, dunia pendidikan, dunia usaha, serta kelompok masyarakat lainnya.

Susanto berharap sinergi tersebut dapat memperluas manfaat program sekaligus mendukung pembangunan Kalimantan Barat.

“Kami berharap dengan penguatan sinergi dan kontribusi ini bisa membantu Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memberikan rasa kemanfaatan bagi umat dan akhirnya membantu terwujudnya pembangunan yang ada di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Program Kerja Tetap Terbuka Untuk Penyesuaian

Susanto mengatakan program kerja LDII telah disusun berdasarkan delapan klaster pengabdian. Namun, program tersebut tidak bersifat kaku dan dapat disesuaikan dengan perubahan kondisi di lapangan.

“Tentu karena kami sudah ada program kerja yang diputuskan. Program kerja yang diputuskan itu menerjemahkan dari delapan klaster tadi,” jelasnya.

Ia mengatakan perkembangan lingkungan strategis dapat menjadi dasar untuk memperkuat maupun menyelaraskan program yang telah ditetapkan.

“Adapun nanti dalam perkembangan-perkembangan melihat lingkungan yang ada, maka bisa saja nanti diperkuat, bisa diselaraskan atau bahkan bisa diikat. Intinya memang kita menjalankan delapan program pengabdian,” katanya.

Dorong Kemandirian Energi Kalbar

Salah satu isu yang mendapat perhatian Susanto adalah ketahanan dan kemandirian energi di Kalimantan Barat.

Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar daerah maupun luar negeri dapat menjadi kerentanan ketika terjadi gangguan geopolitik atau rantai pasok global.

“Kalau kita lihat aspek ketahanan bangsa itu akan rawan tatkala ada gejolak global,” ujarnya.

Karena itu, Susanto mendorong Kalimantan Barat mengembangkan sumber energi yang tersedia di daerah dengan tetap memperhatikan aspek teknologi, lingkungan dan keberlanjutan.

“Kalbar semestinya harus membangun pembangkit-pembangkit listrik dengan memanfaatkan apa yang bisa. Bisa tenaga surya, bisa tenaga mikrohidro,” katanya.

Ia juga menyinggung kemungkinan pemanfaatan teknologi energi lainnya di masa mendatang, termasuk teknologi nuklir berbasis uranium.

“Bahkan kalau memang nanti konteksnya teknologi ramah lingkungan, bisa saja memanfaatkan uranium sebagai basis pengembangan teknologi nuklir,” ujarnya.

Gagasan tersebut merupakan pandangan mengenai kemungkinan pengembangan teknologi energi di masa depan. Implementasinya membutuhkan kajian ilmiah dan teknis yang komprehensif, termasuk aspek keselamatan, regulasi, kelayakan ekonomi, lingkungan, tata ruang serta kebijakan energi nasional.

Energi Dan Ketahanan Daerah

Bagi Susanto, ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan listrik, tetapi juga menyangkut keberlangsungan aktivitas masyarakat, ekonomi, pendidikan, pelayanan publik dan sektor industri.

Karena itu, pengembangan energi baru terbarukan dinilai perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah.

Menurutnya, pemanfaatan potensi energi lokal dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan daerah menghadapi perubahan kondisi global.

Kontribusi Harus Dirasakan Masyarakat

Susanto menegaskan, seluruh program yang dirumuskan melalui Muswil harus bermuara pada manfaat bagi masyarakat.

LDII, kata dia, tidak ingin program berhenti sebagai agenda organisasi, tetapi diterjemahkan menjadi kegiatan yang memberikan kontribusi nyata di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, lingkungan, ketahanan pangan, kebangsaan, teknologi hingga energi.

“Intinya memang kita menjalankan delapan program pengabdian,” tegasnya.

Ia mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

Muswil Jadi Momentum Konsolidasi

Muswil VIII juga menjadi momentum konsolidasi internal LDII Kalimantan Barat. Forum tersebut menjadi ruang evaluasi terhadap capaian organisasi selama lima tahun sekaligus mengidentifikasi berbagai hal yang perlu diperkuat pada periode mendatang.

Susanto menegaskan LDII tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat sendirian. Karena itu, komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, lembaga pendidikan, dunia usaha serta berbagai elemen masyarakat akan terus diperkuat.

Dengan evaluasi lima tahunan dan penyusunan program baru, LDII Kalbar berharap dapat semakin adaptif terhadap perubahan sekaligus memperkuat kontribusinya bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Muswil VIII pun menjadi momentum untuk memastikan delapan klaster pengabdian LDII dapat diterjemahkan menjadi program yang relevan dengan tantangan Kalimantan Barat, termasuk persoalan lingkungan, ketahanan pangan, ekonomi, transformasi digital dan energi. (Dian/MK)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *