Transformasi kawasan tersebut mencakup lima aspek utama, yakni revitalisasi terminal, pengembangan kawasan mixed use, penguatan konektivitas pejalan kaki, penyediaan destinasi komersial baru, serta ruang terbuka publik.
Pengembangan kawasan mengusung konsep transit oriented development (TOD) dan ditargetkan rampung secara bertahap hingga 2029. Proyek ini tidak menggunakan APBD, melainkan melalui skema creative financing bersama mitra strategis.
Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto mendukung pengembangan konsep TOD di sekitar stasiun MRT.
“Konsep tersebut penting untuk mengoptimalkan akses masyarakat menuju dan dari kawasan stasiun,” kata Wahyu, dikutip dari laman resmi Pemprov DKI, Jumat 9 Oktober 2026.
Wahyu mengatakan ada lima aspek pengembangan di Blok M seperti revitalisasi terminal, kawasan mixed use, dan destinasi komersial baru telah disesuaikan dengan potensi kawasan.
“Untuk kawasan-kawasan stasiun lain tentu disesuaikan dengan masing-masing lokasi,” kata politisi Partai Gerindra ini.
Wahyu menilai, keberadaan MRT dapat menjadi penggerak pertumbuhan kawasan di sekitar stasiun.
Sebab itu, kata Wahyu, pemerintah daerah perlu menyiapkan arahan yang jelas agar potensi setiap kawasan dapat dikembangkan secara optimal.
“Adapun infrastruktur publik seperti fasilitas pejalan kaki dan lain-lain tentu perlu segera diprogramkan. Demikian juga dengan ruang-ruang terbuka publik,” pungkas Wahyu. 
