Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui dukungan kepada Koperasi Produsen Tahu Tempe dan Garam Indonesia Nanga Tolo Sia di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang berhasil memproduksi Garam Merah Putih Bima untuk bersaing di pasar lokal maupun nasional.
Merek garam Merah Putih Bima yang baru diluncurkan baru-baru ini, telah memenuhi sejumlah persyaratan dan perizinan sebelum dipasarkan, termasuk sertifikasi halal, izin edar BPOM, dan perizinan usaha.
“KKP akan terus mendukung usaha-usaha pergaraman masyarakat sehingga tidak hanya kuat di hulu, tapi juga mampu mengolah produksinya menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Kami mengupayakan keberhasilan ini tidak hanya di Bima, tapi wilayah-wilayah lain di Indonesia karena ini juga menjadi bagian dalam mendukung pencapaian target swasembada garam di tahun 2027,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam siaran resmi di Jakarta, Minggu, 11 Oktober 2026.
Koperasi Nanga Tolo Sia sebelumnya telah menerima hibah berupa sarana pabrik garam beserta washing plant dari Direktorat Sumber Daya Kelautan KKP pada tahun 2024. Bantuan hibah ini dirancang untuk mendorong optimalisasi pengolahan garam lokal agar mampu menghasilkan garam berkualitas tinggi yang memenuhi standar industri maupun konsumsi nasional.
Selain bantuan fasilitas, KKP melalui Balai Besar Produksi Garam dengan wilayah kerja meliputi NTT, NTB, Bali, dan Jawa Timur juga siap memberikan pendampingan kepada petambak dan pengurus koperasi, baik dalam aspek peningkatan kompetensi sumber daya manusia, teknik produksi, pengolahan maupun pengelolaan usaha.
Kepala Balai Besar Pengelolaan Garam KKP Muhammad Zaki Mahasin menambahkan pentingnya strategi pemasaran yang kuat untuk memastikan keberlanjutan usaha koperasi. Menurutnya, pengembangan usaha perlu disertai kepastian pasar untuk berbagai produk garam, mulai dari garam olahan, garam olahan beryodium hingga garam krosok.
“Koperasi harus memastikan pasar garam ada tiga, yaitu garam olahan, garam olahan beryodium dan krosok, masing-masing harus ada marketnya, sehingga anggota koperasi pun harus punya tim marketing untuk mencari target pasar agar sustainability ke depan,” ujar Zaki.
Sementara itu, Ketua Koperasi Nanga Tolo Sia, Kisman mengatakan, selain memproduksi garam konsumsi, koperasi juga menyediakan jasa pengolahan garam yang dapat dimanfaatkan petambak maupun distributor. Pihaknya pun berkomitmen memperkuat usaha anggotanya melalui peningkatan produktivitas lahan, baik melalui ekstensifikasi, intensifikasi maupun diversifikasi.
“Koperasi juga mengoptimalkan operasional washing plant tersebut untuk mengolah dan menyerap hasil panen garam petambak lokal,” ungkap Kisman.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Bima, produksi garam pada 2025 mencapai sekitar 1.200 ton dengan luas lahan garam sekitar 1.600 hektare. Keberadaan pabrik garam yang digerakkan oleh koperasi membuat produk garam halus dari Bima dapat masuk ke rantai pasok kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan industri, sekaligus memperkuat posisi petambak garam. 
