Menurut Kholid, penggunaan teknologi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemilu harus disertai kesiapan sistem yang memadai agar tidak menimbulkan persoalan baru.
“Cyber security kita bagus enggak? Jangan sampai seperti dulu waktu Sirekap bermasalah. Akhirnya kita berantem gara-gara Sirekap karena teknologi kita tidak siap,” kata Kholid di DPP PKS, Rabu, 14 Oktober 2026.
Ia menegaskan, penerapan teknologi dalam pemilu memang dapat menjadi upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Namun, jika tidak dipersiapkan secara matang, teknologi justru berpotensi menimbulkan masalah.
“Kita ingin efektif dan efisien, tapi jadinya blunder. Ini yang perlu kita pastikan,” ujarnya.
Kholid mencontohkan pengalaman penggunaan Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) pada pemilu sebelumnya yang menuai berbagai persoalan. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting sebelum pemerintah dan penyelenggara pemilu menerapkan sistem pemungutan suara elektronik.
Ia menilai, berbagai persoalan dalam penggunaan Sirekap turut memicu perdebatan hingga proses penghitungan suara kembali mengandalkan mekanisme manual.
“Akibat dulu perdebatan Sirekap, akhirnya kembali lagi ke manual. Sirekap yang kita buat tidak terpakai karena banyak masalah,” jelasnya.
Karena itu, Kholid meminta agar rencana penerapan *e-voting* dikaji secara menyeluruh, terutama dari sisi keamanan siber, kesiapan infrastruktur, dan keandalan teknologi.
“Kalau teknologi harus betul-betul dipikirkan. Jangan sampai justru jadi celah masalah,” tandasnya. 
