Puing roket China jatuh di kebun sawit Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Videonya viral. Anehnya, tak ada peringatan dari pemerintah. Apakah radar kita lagi ngopi? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Senin, 19 Oktober 2026, seorang pekerja kebun menemukan benda logam misterius di perkebunan PT Agro Bukit, sekitar Kilometer 26–27 Jalan Sampit Pangkalan Bun. Panjangnya diperkirakan enam meter, berat mendekati 100 kilogram, lengkap dengan kabel dan sambungan logam. Sekitar 20 orang disebut dibutuhkan untuk memindahkannya.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), benda pertama itu sangat mungkin berkaitan dengan puing roket ZhuQue-2E Y4 buatan perusahaan China, LandSpace. Roket tersebut diluncurkan pada 14 Oktober 2026 dengan membawa sepuluh satelit. Penelusuran orbit menunjukkan lintasan terakhir badan roket berada di sekitar Sampit pada 18 Oktober sekitar pukul 17.36 WIB. Kode 2ZQE31-20-15 turut membantu identifikasi.
Sekarang mari kita pindahkan lokasi jatuhnya ke tengah kampung. Ini simulasi absurd, Wak, bukan laporan kejadian sebenarnya.
Malam itu warga sedang pengajian. Pak ustaz baru membahas kebesaran Allah. Tiba-tiba braaakkk! Benda enam meter menghantam halaman musala. Jemaah berhamburan, sandal beterbangan.
Pak ustaz terdiam, lalu berkata, “Jamaah, biasanya kita kedatangan rezeki dari langit. Malam ini besi impor!” Jemaah paling belakang bertanya, “Ustaz, ini dibaca doa selamat atau dipanggil teknisi roket?”
Di gang sebelah, empat bapak sedang main gaplek. Baru saja Pak RT memasang balak enam, tiba-tiba tanah bergetar. Kartu domino beterbangan. “Siapa yang membanting meja?” “Bukan meja, Pak! Itu China kirim paket!”
Di warung kopi, puluhan orang sedang nobar Timnas Indonesia melawan Malaysia. Striker Indonesia bersiap menembak. Tiba-tiba atap bergetar, benda logam menghantam parkiran. Semua berteriak, “Gooool!”
Padahal tidak ada gol. Itu suara roket mendarat. Komentator televisi kalah populer dari tukang parkir yang berteriak, “Puing masuk lapangan! Wasit mana wasit?”
Sementara itu, di Istana, pejabat sedang rapat koordinasi karhutla. Peta gambut terbentang, strategi pemadaman dibahas serius. Mendadak masuk laporan benda antariksa jatuh di permukiman.
Rakor langsung naik kelas. Dari karhutla menjadi rapat koordinasi lintas galaksi. Ada mengusulkan Satgas Puing Antariksa. Ada meminta kajian. Ada pula bertanya apakah besinya bisa masuk program hilirisasi.
“Roket siapa?” tanya Presiden.
“Diduga China, Pak.”
“Kenapa jatuh di sini?”
Ruangan mendadak senyap. Semua menatap layar, menunggu jawaban muncul seperti slide presentasi.
Kembali ke fakta. Pada 20 Oktober muncul laporan benda logam misterius kedua di kawasan perkebunan yang sama. Identitasnya belum dipastikan. Sementara itu, belum ada keterangan resmi memastikan apakah radar Indonesia mendeteksi puing pertama sebelum jatuh. Pelacakan benda di orbit berbeda dari pengawasan radar pertahanan udara.
So, jangan buru-buru menuduh radar kita tidur apalagi ngopi. Tetapi pemerintah perlu menjelaskan apakah sistem peringatan dini mampu mengantisipasi puing mengarah ke permukiman.
Sebab, kalau jatuh di kebun sawit, dua puluh orang repot mengangkat besi. Kalau jatuh di musala, meja gaplek, atau warung nobar, satu kampung bisa masuk berita internasional. Jangan sampai langit sudah memakai teknologi abad ke-21, tetapi kita baru tahu ada benda jatuh setelah Pak RT mengumumkan lewat pengeras suara:
“Perhatian! Ada tamu dari luar negeri. Tidak membawa paspor, tidak pesan kopi, langsung mendarat di halaman warga!”
Semoga yang jatuh berikutnya cuma harga cabai, atau hujan, bukan roket! (*)
Penulis: Rosadi Jamani
