Emas spot turun 0,3 persen menjadi 4.125,90 Dolar AS per ons pada Rabu dini hari 21, Oktober 2026. Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember ditutup melemah 0,4 persen menjadi 4.142,60 Dolar AS per ons.
Penurunan tersebut menjadi pelemahan ketiga secara beruntun setelah harga emas terkoreksi 0,6 persen pada Senin dan mencatat penurunan dalam sepekan sebelumnya.
Tekanan terhadap emas terjadi ketika harga minyak mentah Brent bertahan di atas 110 Dolar AS per barel, mendekati level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Kekhawatiran gangguan pengiriman energi di kawasan Teluk Persia, menyusul laporan serangan terhadap kapal di dekat Selat Hormuz, turut menopang harga minyak.
Kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran juga mengklaim telah menyerang sejumlah infrastruktur energi, bandara, dan fasilitas militer di Arab Saudi, termasuk fasilitas Aramco.
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi karena meningkatkan biaya bahan bakar, transportasi, dan produksi. Jika tekanan harga terus berlanjut, bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi.
Situasi ini menjadi beban bagi harga emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga bertahan tinggi, investor cenderung melirik instrumen lain yang menawarkan imbal hasil, seperti obligasi. Akibatnya, daya tarik emas dapat berkurang meskipun ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong permintaan terhadap aset aman.
Pelaku pasar kini mencermati pertemuan The Fed pada 27-28 Oktober. Berdasarkan data CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang sebesar 83 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Namun, ekspektasi pasar menunjukkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 94 persen pada Desember. Arah kebijakan suku bunga AS akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan pergerakan harga emas selanjutnya.
