Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, penerimaan bea dan cukai tetap mencatat pertumbuhan meski sempat mengalami kontraksi pada tiga bulan pertama tahun ini.


“Mengumpulkan penerimaan itu bukan pekerjaan yang mudah, baik di bea cukai maupun di pajak, karena itu harus dilakukan dengan tata kelola yang baik, disiplin, dan tertib,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat, 18 September 2026.

Jika dirinci, penerimaan cukai masih menjadi kontributor terbesar dengan realisasi Rp148,7 triliun. Angka tersebut tumbuh 3,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.



Pertumbuhan cukai antara lain ditopang aktivitas penindakan serta peningkatan produksi rokok dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA).

Sementara itu, penerimaan bea masuk tercatat Rp36,4 triliun atau tumbuh 13 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut dipengaruhi peningkatan volume impor dan pergerakan nilai tukar.

Adapun penerimaan bea keluar mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 34,4 persen menjadi Rp25,1 triliun. Kinerja tersebut terutama didorong kenaikan harga dan volume ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

Suahasil menjelaskan, penerimaan bea keluar dari aktivitas ekspor turut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kurs valuta asing, volume ekspor hingga permintaan dari pasar global.

“Tentu ada berbagai macam faktor yang memengaruhi, misalkan kita ekspor pakai kurs valuta asing, jika valas menguat, volume ekspor meningkat dan beanya juga naik. Jadi faktor volume, kurs, permintaan luar negeri menjadi sangat penting,” tandasnya.  rmol news logo article



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *