Komitmen itu disampaikan Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk PBB Duta Besar Umar Hadi dalam Pertemuan Pleno ke-18 Majelis Umum PBB membahas transformasi Kemitraan Baru untuk Pembangunan Afrika (NEPAD) menuju Agenda 2063 di Markas Besar PBB, New York, Senin, 12 Oktober 2026.

Umar menekankan, semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 atau Semangat Bandung tetap relevan untuk memastikan negara-negara berkembang tidak terpinggirkan dalam percaturan global.

Menurutnya, kemerdekaan dan kedaulatan yang telah diraih negara-negara Asia dan Afrika harus diikuti penguatan institusi serta kemandirian ekonomi. Indonesia juga mengapresiasi perkembangan ekonomi Afrika yang tumbuh sekitar 4,4 persen pada 2025. Sebanyak 22 negara di benua tersebut bahkan mencatat pertumbuhan di atas 5 persen.


Meski demikian, Afrika masih menghadapi tantangan struktural, mulai dari tingginya biaya pinjaman luar negeri, terbatasnya akses pembiayaan terjangkau, hingga belum optimalnya nilai tambah dari pengelolaan sumber daya alam.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Umar menyampaikan tiga gagasan strategis. Pertama, negara-negara Afrika harus mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Indonesia menerapkan strategi tersebut melalui hilirisasi industri untuk mendorong penciptaan lapangan kerja, memperkuat sektor industri, dan meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

Kedua, investasi jangka panjang pada sumber daya manusia harus menjadi prioritas, terutama melalui pendidikan, kesehatan, nutrisi, dan pengembangan keterampilan.

Komitmen itu turut diwujudkan melalui kerja sama dengan negara-negara Afrika, antara lain penyediaan beasiswa dan pelatihan teknis. Pada Juli 2026, Indonesia mengoperasikan kembali pusat pelatihan pertanian di Tanzania dan Gambia.

Ketiga, semangat Bandung harus diterjemahkan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat langsung. Kerja sama Indonesia-Afrika dalam satu dekade terakhir tercermin dari berbagai kesepakatan bisnis dan program peningkatan kapasitas.

Forum Indonesia-Afrika (IAF) pertama pada 2018 menghasilkan kesepakatan bisnis hampir 600 juta Dolar AS. Pada IAF kedua tahun 2024, sebanyak 32 perjanjian kerja sama strategis ditandatangani dengan nilai lebih dari 3,5 miliar Dolar AS.

Sementara itu, Dialog Infrastruktur Indonesia-Afrika pada 2019 mencatat komitmen kesepakatan lebih dari 800 juta Dolar AS. Dalam kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular, sekitar 500 peserta dari Afrika juga mengikuti lebih dari 60 proyek pelatihan.

Kolaborasi tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pengembangan vaksin hingga teknologi pertanian dan peternakan.

Ke depan, Indonesia mendorong penguatan sinergi ASEAN dan Afrika, termasuk melalui pemanfaatan peluang Kawasan Perdagangan Bebas Kontinental Afrika (AfCFTA), untuk memperluas perdagangan dan investasi kedua kawasan. rmol news logo article



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *