Memberi ruang berkreasi kepada daerah untuk mengembangkan diri, menyelesaikan dan mengatasi persoalan yang terjadi didaerahnya dan lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, pada saat yang sama, sumber daya sumber daya yang ada idaerah itu benar benar dipergunakan untuk pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Makanya, pada zaman Yunani Kuno setiap wilayah itu dapat menunjukkan jati diri dan eksistensi daerahnya di mana segala sumber yang ada dimanfaatkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat, sehingga rakyat menjadi peduli untuk ikut mengembangkan daerahnya. 


Walaupun tulisan ini, tidak fokus pada perlunya otonomi daerah dilaksanakan secara konsisten dan transparan dalam kerangka menyerahkan sejumlah urusan kepada pemerintah daerah oleh pemerintah pusat, namun ittu salah satu problematika yang dihadapi mengapa negara itu tidak bisa maju. Ketika pemerintah pusat enggan menyerahkan kewenangan kepada daerah, itu menunjukkan ketidakpercayaan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, serta menjadi petunjuk betapa pemerintah pusat tidak mau kehilangan untuk mengurus sejumlah kewenangan. 

Walaupun, jika pemerintah pusat ingin untuk lebih konsentrasi pada urusan yang lebih strategis itu jauh lebih baik, namun lagi lagi ini menyangkut kue kekuasaan. Oleh karena dalam kekuasaan itu selalu diiringi dengan banyak fasilitas yang tersedia, sehingga tidak heran, memang, bila orang berebut dengan kekuasaan dengan menggunakan pelbagai cara. 



Lalu, mengapa orang berlomba lomba untuk menduduki kursi kekuasaan itu pada semua tingkat? Ada beberapa faktor yang menjadi pendorong agar seseorang atau figur untuk maju dalam perebutan kekuasaan itu, antara lain, pertama, ada bakat dan animo kuat untuk mau berkuasa. Ketika seseorang merasa diri punya talenta, pengetahuan yang cukup dan punya visi, cenderung untuk ikut dalam kompetisi pemilihan lokal ataupun pemilihan nasional, kedua, namun itu tidak cukup. Diperlukan kemampuan untuk memengaruhi pemilih atau konstituen bahwa yang dia tawarkan memang diperlukan. 

Sehingga seorang calon punya pandangan dan cita cita masa depan yang unggul, ketiga, punya dana yang cukup untuk membiayai segala keperluan dalam menarik simpati masyarakat. Ongkos kampanye itu membutuhkan biaya besar karena banyaknya pihak yang dilibatkan. Sehingga, ada pameo ketika anda punya dana besar atau didukung finansial yang banyak, maka itu lebih mudah dalam melakoni kompetisi yang relatif dipenuhi pelbagai intrik. 

Itulah keniscayaan politik yang tidak hanya terjadi pada negara miskin, juga terjadi pada negara yang sudah mapan demokrasinya (kasuistis), keempat, alasan pokok mengapa orang ingin berkuasa, atau paling tidak ada dalam kekuasaan, karena ia bisa menggerakkan seluruh elemen yang ada untuk bersama sama membangun daerah. Itu pikiran positifnya. Ada juga yang menjadikan kekuasaan itu kesempatan untuk mendapatkan sebanyak mungkin pundi pundi untuk memperkaya diri. Maka, tidak heran jika seseorang punya kuasa diasumsikan punya kemampuan dana besar, walaupun dasarnya bukanlah orang kaya. 

Sisi lain dari manisnya kekuasaan itu dapat kita simak dengan seksama pada pelaksanaan program dan kebijakan. Biasanya, para penikmat kekuasaan berorientasi pada keuntungan apa yang diperoleh dan seberapa besar yang akan didapatkan dari pemerlakukan suatu program dan kebijakan serta sejumlah urusan lain yang berhubungan dengan kekuasaannya. 

Jika dengan segala kalkulasi yang diperhitungkan sudah sesuai dengan keinginannya, maka diberlakukan. Jika ternyata itu hanya menguntungkan segelintir orang selain dirinya, maka prioritas yang dikedepankan adalah keberlangsungannya. Semakin lama sebuah program atau kebijakan diterapkan, tentu akan semakin besar yang bisa diperoleh. Jadi, kekuasaan itu sangat dekat kemampuan membuat hitungan yang cermat. Karena biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan kekuasaan itu tidaklah kecil. Itulah sebab segala upaya dapat ditempuh untuk bisa kembali modal dan memperoleh keuntungan besar. 

Jadi, kekuasaan dalam makna negatif adalah penggunaan segala fasilitas yang melingkupinya untuk dipergunakan sebesar besarnya untuk dirinya dan kroni kroninya. Pemanfaatan kesempatan secara semena mena adalah ciri dari orang yang menggunakan kekuasaan tanpa memedulikan kepentingan dan kebutuhan rakyat. Bukankah hadirnya pemerintahan yang dijalankan lewat sederet kekuasaan itu untuk memberi pelayanan sebaik baiknya kepada rakyat, serta berupaya untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan rakyat? 

Tapi nampaknya itu hanya ilustrasi teoritis bagi pengelola kekuasaan yang tidak punya moral kekuasaan yang baik. Bukankah kekuasaan itu hanya dapat digunakan dengan baik bila yang berkuasa itu punya komitmen lurus dan niat yang baik dalam menjalankan kekuasaan. 

Bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi, keluarga, konco konconya maupun para cukong cukong yang dengan tangan terbuka menyediakan fulus tak terbatas. Sehingga, kekuasaan itu sangat dekat dengan oligarki bila tidak punya respek religius yang memadai 

Walaupun kita juga paham, bahwa kekuasaan bisa menjadi kesempatan untuk berbuat baik seluas luas bagi rakyat, bangsa dan negara. Kekuasaan tidak selalu punya relevansi dengan hal negatif jikalau dijalankan secara benar, bersungguh sungguh dan konsisten. Kekuasaan yang dibingkai dengan nilai nilai agama, niscaya akan menjadikan kekuasaan itu sebagai anugerah untuk berbuat lebih banyak dan baik untuk rakyat. rmol news logo article
  
Ridha Rasyid
Pemerhati masalah sosial dan politik 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *