Sambas, Kabar Terbaru – Sebutan pemuda sebagai harapan bangsa harus dibuktikan dengan kesempatan yang nyata. Dosen Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS), Dr. Bayu, M.Pd., menyoroti sulitnya anak muda mencari pekerjaan hingga kesenjangan akses pendidikan dalam momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98.

Dalam tulisannya berjudul “Tantangan Generasi Muda antara Krisis Karakter, Pengangguran, dan Tanggung Jawab Kebangsaan”, Bayu mengingatkan bahwa peringatan setiap 28 Oktober harus melampaui upacara dan pidato.

“Pemuda tidak cukup hanya diberi harapan, tetapi juga harus memperoleh kesempatan, kepercayaan, akses, dan ruang untuk berpartisipasi dalam pembangunan,” tulis Bayu dalam naskah tersebut.

Menurutnya, persoalan pengangguran tidak bisa dibebankan seluruhnya kepada anak muda. Kesulitan mendapat pekerjaan juga berkaitan dengan kualitas pendidikan, kesesuaian keterampilan, ketersediaan lapangan kerja, dan pemerataan kesempatan.

Artinya, dorongan agar pemuda terus meningkatkan kemampuan harus diikuti langkah pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha untuk membuka akses yang lebih luas.

“Persoalan ini tidak dapat disederhanakan sebagai akibat kurangnya usaha individu,” tulisnya.

Bayu mendorong perluasan pelatihan keterampilan, penguatan pendidikan vokasi, dukungan kewirausahaan, dan kesempatan kerja yang lebih inklusif. Ijazah, menurutnya, perlu disertai kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan karakter.

Sorotan itu juga diarahkan pada kondisi pemuda di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Sambas. Potensi pertanian, perikanan, perdagangan, pariwisata, serta ekonomi kreatif membutuhkan dukungan infrastruktur, permodalan, dan pendampingan usaha.

“Anak muda di perbatasan tidak boleh dipandang sebagai generasi yang tertinggal hanya karena kondisi geografisnya,” tulis Bayu.

Ia menekankan bahwa pemuda perbatasan berhak mendapat kesempatan setara untuk belajar, bekerja, berinovasi, dan berkontribusi bagi pembangunan nasional.

Selain persoalan ekonomi, Bayu mengingatkan tantangan karakter di tengah budaya mengejar hasil instan dan popularitas di media sosial. Menurutnya, kemampuan dan pengaruh akan kehilangan makna jika tidak disertai integritas serta kepedulian terhadap masyarakat.

“Kecerdasan tanpa integritas dapat kehilangan arah. Keterampilan tanpa tanggung jawab dapat disalahgunakan. Popularitas tanpa kepedulian sosial juga tidak selalu menghasilkan perubahan yang berarti,” tulisnya.

Ia turut menyoroti penggunaan kecerdasan buatan. Teknologi tersebut dapat membantu belajar, penelitian, dan pengembangan usaha, tetapi tetap membutuhkan daya kritis, pemeriksaan informasi, serta kejujuran akademik.

Bayu juga mengingatkan fungsi organisasi kepemudaan. Organisasi semestinya menjadi tempat belajar kepemimpinan, mengelola perbedaan, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Organisasi bukan sekadar tempat memperoleh jabatan atau memperluas jaringan pertemanan,” tulisnya.

Di sisi lain, Bayu menegaskan bahwa kritik pemuda harus mendapat tempat dalam demokrasi. Kritik yang bertanggung jawab, berlandaskan fakta, dan disertai solusi merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa.

“Kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab, berdasarkan fakta, dan disertai tawaran solusi merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa, bukan ancaman terhadap pembangunan,” tulisnya.

Ia mendorong pemerintah membuka ruang bagi generasi muda dalam pengambilan keputusan. Perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat juga perlu memberi kesempatan agar gagasan pemuda dapat diwujudkan.

Bagi Bayu, ukuran keberhasilan generasi muda tidak berhenti pada tingginya pendidikan, besarnya pendapatan, atau luasnya pengaruh di media sosial. Ilmu dan kemampuan perlu menghasilkan manfaat bagi sesama.

“Sumpah Pemuda harus hidup dalam tindakan, bukan hanya dalam ingatan,” tulisnya.(rai)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *