Demikian pandangan Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, dikutip Minggu 11 Oktober 2026.
Buktinya, kata Erizal, saat ditanya wartawan peluang Prabowo-Gibran dua periode setelah putusan MK Nomor 1/2026, Jokowi tidak lagi bersemangat menjawab seperti tahun lalu, kendati tidak mengatakan pupus atau sudah berakhir.
“Jawaban Jokowi adalah raut wajahnya yang tak lagi penuh senyum seperti dulu,” kata Erizal.
Erizal menilai Jokowi salah baca terhadap Prabowo. Prabowo sebagai bawahan berbeda jauh dengan Prabowo sebagai komandan.
“Dua posisi itu pernah dialami Prabowo pada saat yang bersamaan. Sementara Jokowi tidak. Jokowi merasa Prabowo adalah anak buahnya selamanya, kendati ia bukan lagi Presiden,” kata Erizal.
Menurut Erizal, apa yang dikatakan Jokowi pada saat menjadi Presiden, pasti akan diamini Prabowo semuanya, tanpa membantah sedikitpun. Bahkan karpet merah untuk jalan Jokowi pun tidak akan diinjak Prabowo, karena dia tahu itu bukanlah untuk dirinya.
“Itu bukti kepatuhan, etika, sopan santun, seorang Prabowo,” kata Erizal.
Tapi, saat Jokowi tidak lagi menjadi Presiden, karpet merah untuk Prabowo tidak bisa diinjak seenaknya pula oleh Jokowi. Ini yang sepertinya, Jokowi lupa.
“Prabowo itu tidak kosong. Ia punya cita-cita, punya keinginan, ideologi, yang bisa jadi justru berbeda jauh dengan Jokowi, kendati tema awalnya adalah keberlanjutan,” kata Erizal.
Seharusnya, sejak awal, Jokowi ikut Prabowo saja. Tidak sebaliknya, Prabowo yang ikut Jokowi seperti sejak awal mematok Prabowo-Gibran dua periode.
“Apalagi terus mematut-matut diri seperti dikatakan loyalisnya, bahwa Prabowo tak ada apa-apanya, tanpa Jokowi. Prabowo menjadi Presiden karena Jokowi,” kata Erizal.
