Menurutnya, berbagai krisis yang terus berulang menjadi bukti bahwa model kerja sama yang berlaku perlu diarahkan pada pendekatan baru.
Dikatakan bahwa pendekatan Maroko dalam menangani persoalan migrasi telah membuahkan hasil nyata.
Namun, Raja mengingatkan perlunya mengevaluasi mekanisme kerja sama yang selama ini dijalankan.
“Kita harus mengakui, dengan segala keberanian dan objektivitas, bahwa model kerja sama saat ini di bidang ini sudah ketinggalan zaman. Krisis yang berulang merupakan bukti nyata akan hal ini,” demikian pernyataan Raja Mohammed VI dalam pidatonya di pembukaan masa sidang pertama tahun legislatif pertama periode ke-12 Parlemen Maroko di Rabat, dikutip Senin, 12 Oktober 2026.
Secara khusus, ia menyoroti kerja sama dengan negara tetangganya, Spanyol, yang telah mengalami perkembangan signifikan di berbagai sektor, termasuk dalam upaya memerangi migrasi ilegal.
Meski demikian, kemitraan kedua negara tersebut dinilai masih menghadapi sejumlah kendala serius.
Raja Mohammed VI menyebut ketentuan hukum yang dianggap sudah usang serta putusan pengadilan yang dinilainya tidak realistis telah menghambat pemulangan anak di bawah umur dan orang-orang yang disebutnya sebagai pencari suaka palsu.
Menurutnya, situasi tersebut juga berpotensi memperbesar ruang gerak jaringan kriminal yang mengambil keuntungan dari persoalan migrasi.
Menanggapi pernyataan yang dinilainya tidak bertanggung jawab serta eksploitasi isu migrasi oleh sejumlah kalangan politik dan media, Raja menegaskan bahwa hubungan kemitraan dengan Spanyol merupakan pilihan berdaulat Maroko dan komitmen yang dijalankan secara sukarela.
“Kemitraan ini adalah pilihan kedaulatan dan komitmen sukarela. Kemitraan ini tidak akan pernah tunduk pada tekanan, ancaman, atau pemerasan apa pun,” tegasnya.
