Sebaliknya, dinamika konflik geopolitik regional, disrupsi rantai pasok global, hingga perubahan iklim ekstrem seperti fenomena El Nino, telah menjadikan pangan sebagai instrumen geopolitik yang sangat krusia. 

Negara yang bergantung pada impor bahan pangan pokok berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap gejolak eksternal. Dalam konteks inilah, perhatian dan agenda strategis Presiden Prabowo dalam mendorong kemandirian pangan perlu dimaknai secara jernih.

Keberhasilan Indonesia mencatatkan swasembada pada delapan komoditas pangan strategis pada tahun 2026 merupakan sebuah pencapaian monumental dalam sejarah pembangunan nasional. 


Kebijakan ini bukan sekadar pencapaian sektor pertanian semata, melainkan manifestasi nyata dari kebijakan geopolitik Indonesia untuk membangun daya tangkal nasional di tengah gelombang globalisasi (perisai geopolitik). Dengan mengubah potensi ancaman krisis pangan menjadi momentum penguatan produksi dalam negeri, pemerintah telah meletakkan batu pertama bagi terwujudnya kedaulatan dan resiliensi bangsa yang sejati.

Swasembada Pangan sebagai Perisai Geopolitik

Secara akademis, capaian swasembada pada delapan komoditas pangan, yang meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit, menunjukkan peningkatan kapasitas produksi domestik yang sangat signifikan. 

Berdasarkan data proyeksi neraca pangan nasional, total produksi dari kedelapan komoditas strategis ini mencapai 72,91 juta ton, sementara tingkat kebutuhan nasional berada di angka 68,22 juta ton. Hal ini menghasilkan surplus agregat sebesar 4,69 juta ton yang menjadi buffer utama pasokan pangan dalam negeri.

Pada komoditas beras sebagai bahan pokok utama, produksi domestik diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton dibandingkan kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton, menciptakan surplus sebesar 3,67 juta ton. Daya tahan sektor perberasan ini diperkokoh oleh kinerja Perum BULOG yang mencatatkan rekor sejarah pengadaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melalui skema Public Service Obligation (PSO) sebesar 4,13 juta ton setara beras, melampaui target penugasan negara. 

Dengan total cadangan beras yang menembus angka lebih dari 4,6 juta ton, Indonesia tidak hanya berhasil mengamankan kebutuhan konsumsi domestik dan menekan inflasi, tetapi juga mulai melangkah menjadi pemain strategis di pasar regional. 

Keberhasilan mengekspor beras premium ke berbagai negara seperti Arab Saudi, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, bahkan sampai Palestina, dan Mesir membuktikan bahwa swasembada telah mentransformasi Indonesia dari negara pengimpor menjadi pilar stabilitas pangan kawasan.

Kapasitas surplus ini juga terjadi pada komoditas strategis lainnya, seperti jagung mencatatkan surplus 1,56 juta ton (produksi 18 juta ton dari kebutuhan 16,44 juta ton). Dilanjutkan dengan gula yang tercatat konsumsi surplusnya mencapai 207 ribu ton, daging ayam ras surplus 876 ribu ton, telur ayam ras surplus 516 ribu ton,  cabai besar surplus 588 ribu ton, cabai rawit surplus 595 ribu ton; serta bawang merah surplus 63 ribu ton. 

Dalam perspektif hubungan internasional dan studi globalisasi, kemampuan memproduksi pangan melebihi kebutuhan domestik memberi leverage diplomasi yang kuat bagi Indonesia. Ini adalah contoh positif dari kehandalan pemerintah untuk dalam membuat sebuah perisai geopolitik, yaitu di saat banyak negara mengalami kerentanan akibat ketergantungan impor pangan dari luar negeri, Indonesia justru mampu menghentikan impor untuk komoditas-komoditas tersebut dan berdiri mandiri di atas kaki sendiri.

Penguatan Gatra Ekonomi dalam Perspektif Ketahanan Nasional

Masuk ke pembahasan 8 komoditas pangan sebagai benteng ketahanan nasional, kita perlu pandang dari lensa ekonomi politik. Ketahanan nasional merupakan wujud kebijakan geopolitik Indonesia yang dirumuskan untuk mempertahankan integrasi bangsa dalam menghadapi segala bentuk Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG), baik dari dalam maupun luar negeri (Armawi, 2011). 

Kerangka analisis ini dioperasionalkan melalui pendekatan Astagatra, yang mengintegrasikan tiga aspek alamiah (Trigatra) dan lima aspek kehidupan sosial yang dinamis (Pancagatra), salah satu gatra utamanya adalah gatra ekonomi.

Di era globalisasi yang sarat persaingan, ketergantungan ekonomi terhadap pasokan luar negeri dapat memicu kerentanan sistemik yang menggoyahkan gatra ekonomi dan stabilitas nasional. Kemandirian ekonomi domestik merupakan kunci utama dalam mengurangi dampak krisis global terhadap stabilitas negara. 

Swasembada 8 komoditas pangan yang dicapai pemerintah secara langsung memperkuat gatra ekonomi ini dengan cara mengamankan pasokan harian masyarakat sekaligus meningkatkan produktivitas sektor pertanian rakyat.

Indikator keberhasilan kebijakan pangan ini tidak hanya terlihat dari volume produksi, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan para petani yang menjadi aktor utama produksi di lapangan. 

Data mencatatkan peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) hingga mencapai angka 127,73 serta pertambahan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) sebesar 132,84, disertai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian yang tumbuh positif sebesar 5,74 persen. 

Kenaikan indeks harga yang diterima petani yang lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar mengindikasikan bahwa kebijakan harga dan perbaikan tata kelola pupuk serta benih unggul pemerintah benar-benar memberikan insentif ekonomi yang nyata bagi masyarakat pedesaan.

Keberlanjutan swasembada ini terus dijaga melalui strategi jangka panjang yang komprehensif, seperti peningkatan Indeks Pertanaman (IP) untuk menambah frekuensi panen, ekstensifikasi dan pencetakan sawah baru di Papua dan Kalimantan, hingga optimalisasi peran kelembagaan. Sinergi antarelemen bangsa, pemerintah pusat, Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, TNI, Polri, hingga kelompok tani, menciptakan ekosistem kolaborasi yang solid. 

Ketika gatra ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput kuat dan terpenuhi kebutuhan utamanya, maka rasa percaya terhadap negara dan semangat bela negara akan tumbuh secara alami, memperkokoh seluruh bangunan ketahanan nasional bangsa ini.

Pencapaian swasembada pada 8 komoditas pangan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo adalah bukti nyata bahwa Indonesia mampu menjawab tantangan globalisasi dengan strategi yang tepat.

Kebijakan pangan yang terintegrasi ini berhasil membuktikan bahwa kedaulatan bangsa dapat dibangun dari sektor pertanian yang produktif, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Penulis mengapresiasi langkah berani dan terukur dari pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Tantangan masa depan seperti perubahan iklim global dan dinamika populasi tentu akan terus hadir, namun dengan fondasi produksi yang kuat, cadangan beras yang melimpah, serta kesejahteraan petani yang terus meningkat, Indonesia berada di jalur yang tepat menuju Indonesia Emas 2045. 

Terlebih, menjaga dan meningkatkan keberlanjutan swasembada pangan ini adalah tugas kolektif seluruh elemen bangsa demi membentengi ketahanan nasional kita. 

Hal ini termasuk menegakkan kedaulatan dan kehormatan bangsa di mata dunia agar Indonesia tidak lagi anggap sebelah mata dalam pertarungan hegemoni dunia yang sedang berkecamuk saat ini.rmol news logo article

Jerry Indrawan
Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *